TUHAN MENYEMBUHKANKU DARI KANKER GANAS

Posted by Admin 2026-05-28

blog-post-image

"Aku tidak akan mati, tetapi hidup,
dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN."

Mazmur 118:17 TB

Shalom, nama saya Sara Ditaputri, biasa dipanggil dengan Sara atau Sarpit. Saya seorang penyintas kanker Limfoma Burkitt stadium empat (adalah jenis kanker langka yang sering kali bermula di organ tubuh seseorang seperti perut (abdomen) atau limpa).

Sel kanker pada Limfoma Burkitt dapat menyebar ke semua bagian tubuh termasuk otak dan sumsum tulang belakang. Puji Tuhan, oleh karena kasih karunia Tuhan, kini saya telah dinyatakan bersih dari sel kanker dan sembuh dengan sempurna.

Saya seorang yang sangat peduli dengan kesehatan, jadi sejak  tahun 2019, saya  mulai mengubah gaya hidup saya dengan rutin berolahraga dan makan makanan sehat.  Itu sebabnya saya tidak mengira bila dapat mengidap penyakit yang sangat menakutkan seperti kanker.

Pada akhir bulan Agustus 2022, tiba-tiba saya mengalami demam ringan pada setiap sorenya. Saya pun memeriksa diri dan berkonsultasi kepada dokter hingga beberapa kali, namun keadaan saya tidak juga membaik. Akhirnya observasi dilakukan sehingga saya harus diopname untuk melakukan pemeriksaan yang lebih detail.

Pemeriksaan dilakukan mulai dari pengambilan darah, x-ray sampai dengan CT-scan. Selama hampir tiga minggu saya berada di RS, namun tidak juga diketahui penyebab dari penyakit tersebut; bahkan keadaan saya semakin lama semakin memburuk.

Salah satu dari ketiga tim dokter yang memeriksa, mencurigai adanya penyakit yang sangat serius pada diri saya. Dokter meminta saya untuk dapat melakukan pemeriksaan BMP (Bone Marrow Puncture atau sum-sum tulang belakang). Proses pemeriksaan tersebut dilakukan dengan  cara pengambilan sample cairan  dari bagian dada saya agar tidak merasakan sakit.

Disaat sedang menunggu hasil pemeriksaan, keadaan saya terus menurun bahkan sampai kehilangan kesadaran. Pada hari yang ke-12; ditanggal 7 Oktober 2022, dokter memanggil orangtua, untuk membacakan hasil pemeriksaan, disaat keadaan saya  masih tidak sadarkan diri.

Dari rangkaian hasil pemeriksaan, tim dokter memvonis saya mengidap kanker limfoma burkitt non-hodgkin stadium empat (yang adalah jenis kanker limfoma yang sangat agresif dan mematikan).  Mengetahui hal itu orangtua saya terkejut dan sangat sedih.

Namun mereka tetap percaya bahwa mujizat Tuhan masih ada. Mereka tidak berhenti untuk  berharap dan berdoa kepada Tuhan agar diberikan hikmat dan jalan keluar untuk bertemu dengan dokter yang tepat.

Tuhan telah menyertai dan menuntun Ibu saya, dengan bertemu dan berkonsultasi kepada dokter yang ada di RS di daerah Semanggi. Setelah dokter mempelajari berkas-berkas hasil pemeriksaan medis, ia memerintahkan agar saya  dapat dipindahkan segera.

Dokter tersebut mengatakan: “Saya tidak berani berjanji apa-apa, tetapi kita akan berusaha semaksimal mungkin”. Sayapun akhirnya dipindahkan dalam keadaan masih tidak sadarkan diri. Setibanya di RS, saya langsung dilarikan ke HCU (High Care Unit) karena keadaan yang telah  mengalami sepsis (komplikasi berbahaya akibat respon tubuh terhadap infeksi) sehingga dapat mengancam nyawa.

Saya juga langsung menjalani pemeriksaan MRI karena dikhawatirkan kankernya sudah  menyebar  sampai ke bagian otak. Namun dikarenakan kondisi saya yang masih belum sadar 100%, maka proses pemeriksaan mengalami kendala. Pilihannya, saya harus disedasi dengan risiko gagal napas sehingga dipasang ventilator.

Di tengah situasi yang sulit, orang tua saya tidak henti-hentinya berdoa dan berseru meminta  pertolongan dari Tuhan. Pada hari keempat,  tiba-tiba saya terbangun, sadar sehingga bisa menjalani MRI, walaupun setelahnya saya kehilangan kesadaran kembali.

Puji Tuhan, hasil pemeriksaan MRI tidak terindikasi adanya sel kanker di otak, tetapi ditemukan infeksi yang menyebabkan saya dapat berhalusinasi. Dan apabila tidak ditangani dengan tepat, dapat menyebabkan penyusutan otak. Halusinasi membuat saya melihat hal-hal yang menakutkan.

Bahkan beberapa dokter dan perawat sudah menjadi korban amukan saya, karena dalam penglihatan saya wajah mereka berubah mengerikan. Lucunya, di tengah pemandangan yang mengerikan itu, saya selalu melihat Oliver, anjing kesayangan saya bermain di bawah tempat tidur. Saya percaya itu adalah cara Tuhan untuk membuat saya merasa tenang.

Untuk menjinakan kanker tersebut, dokter mengambil keputusan agar saya dapat di kemoterapi dalam dosis kecil. Namun disaat proses kemoterapi dilakukan, saya mengalami pendarahan yang begitu hebat seperti diare sebanyak dua puluh kali sehari.

Selama melewati masa-masa kritis, begitu banyak orang yang mendukung saya dalam doa. Keluarga, teman-teman gereja, kantor, bahkan orang-orang yang tidak saya kenal dari berbagai persekutuan doa. Dukungan itu sangat menguatkan bagi keluarga besar yang pada saat itu sedang dalam pergumul berat atas kondisi saya.

Puji Tuhan, setelah diberikan kemoterapi dosis kecil, kondisi saya berangsur-angsur membaik. Saya mulai tidak berhalusinasi lagi dan dapat diajak berkomunikasi. Bahkan disaat seorang dokter mengajak saya menyanyikan lagu “Sgala Puji Syukur,” dari Pdt. DR Ir. Niko Njotorahardjo, saya dapat mengingat liriknya dengan baik

Tuhan Yesus sungguh baik,  saya percaya bahwa semuanya terjadi karena Tuhan berkarya secara luar biasa atas setiap jawaban doa yang dinaikkan bagi  saya dan keluarga. Puji Tuhan, saya akhirnya dapat kembali sadar secara penuh. Ketika sadar itulah saya baru mengetahui bahwa mengidap penyakit kanker stadium empat.

Roh Kudus telah memberikan damai sejahtera sehingga saya tidak merasa takut dan khawatir.  saya mampu menerimanya dengan perasaan tenang dan percaya “bila Tuhan telah meluputkan saya dari maut, maka Tuhan jugalah yang akan menyertai semua proses pengobatan ini sampai ke depannya”.

Puji Tuhan, keadaan saya pun semakin membaik, saya dapat pulang dan menjalani recovery sebelum menjalani enam siklus kemoterapi yang disarankan dokter. Jujur secara manusia saya merasa sangat takut membayangkannya, pikiran saya jangan-jangan saya bakal meninggal gara-gara kemo atau mungkin kalah terhadap kankernya.

Suatu pagi, di saat teduh, Tuhan memberikan kepada saya suatu ayat ,

“Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN”.

Mazmur 118:17 TB

Seketika itu juga ketakutan saya terasa diangkat. Saya percaya bahwa hidup saya untuk mengalami dan menyaksikan kebaikan Tuhan. Pertolongan Tuhan tidak pernah telambat dan datang tepat waktunya.

Sebenarnya dokter berencana untuk memberikan regimen kemoterapi Hyper CVAD yang menurut jurnal medis; efek sampingnya dapat membahayakan organ-organ vital seperti jantung dan paru-paru. Karena terlalu berisiko, dokter memutuskan untuk menggantinya dengan regimen Dose Adjusted EPOCH yang lebih dapat dikontrol.

Selama proses kemoterapi, saya selalu berdoa meminta sukacita dan damai sejahtera dari Tuhan, karena saya percaya, hati yang gembira adalah obat yang manjur. Puji Tuhan, selama enam kali dikemo yang setiap siklusnya berlangsung lima hari lima malam, saya tidak pernah merasa mual dan muntah bahkan saya bisa makan dengan lahap dan selalu merasakan sukacita dalam hati saya.

Memang ada kalanya saya menangis karena kesakitan, tetapi setiap saya berdoa dan berkata “Tuhan Yesus, tolong…” saya merasakan pertolongan Tuhan. Tidak henti-hentinya Tuhan menolong dengan mencukupkan segala kebutuhan saya dan keluarga. Ada  setiap hari yang mengirimkan makanan, barang-barang yang diperlukan sampai bantuan financial.

Setelah menjalani kemoterapi keempat, dokter meminta agar saya dapat melakukan pemeriksaan PET CT scan untuk mengetahui kondisi sel kanker.  Malamnya, saya merasa khawatir dan takut apabila hasil pemeriksaannya buruk. Saya lalu  teringat dengan pujian “Thank You Jesus for The Blood”. Tuhan berbicara di dalam hati saya, yang mengatakan  “Darah-Ku yang sudah tercurah itu mengalir di tubuhmu, kamu sudah sembuh”.

Mendapat pernyataan itu rasanya ingin percaya tetapi masih ragu karena kemonya saja baru yang keempat;  belum sampai enam kali. Pada tanggal 10 Februari 2023, tiga hari setelah pemeriksaan PET CT scan, Dokter membacakan hasilnya dan berkata, “Wah sudah bersih ini, sudah tidak ada sel kankernya!”.

Mendengar hal itu, seketika saya dan Ibu yang selalu setia menemani saya langsung berpelukan sambil menangis, terharu dan bersyukur atas mujizat kesembuhan yang Tuhan buat. Saya langsung berdoa minta ampun apabila sempat tidak mempercayai perkataan yang saya dengar malam itu. Walaupun sudah dinyatakan bersih dari sel kanker, saya tetap harus menyelesaikan kemoterapi sampai enam kali agar pengobatannya benar-benar tuntas.

Puji Tuhan, setelah dilakukan empat kali PET CT scan, saya sudah benar-benar dinyatakan remisi dari kanker, hasil pemeriksaan MRI kedua yang menunjukkan adanya infeksi diotak juga sudah hilang sama sekali, sampai Dokter sendiri mengatakan, bahwa apa yang terjadi pada diri saya adalah mujizat.

Sekarang kondisi saya sudah jauh lebih sehat. Selain checkup rutin setiap 3 bulan, saya sudah mulai kembali berolahraga, melayani di tim musik gereja dan melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri walaupun belum bekerja full time seperti sebelumnya.

Apa yang saya alami tidaklah mudah, bahkan sangat kecil kemungkinan untuk bisa sembuh. Tetapi Tuhan memakai semuanya itu untuk menyatakan bahwa betapa besar kasih dan kuasa-Nya, seperti dalam Firman Tuhan yang mengatakan:

Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”

2 Korintus 12:9a TB

Bagi siapapun saudara yang saat ini sedang dalam pergumulan maupun sakit penyakit apapun, tetaplah semangat dan terus mengandalkan Tuhan Yesus, karena Ia punya rencana terindah bagi setiap kita. Amin.