AKU DIPILIH TUHAN, AKU DIPANGGIL TUHAN
Posted by Admin 2026-05-28
"Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.
Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah
dan buahmu itu tetap,
supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku,
diberikan-Nya kepadamu."
Yohanes 15:16
Nama saya Novi, saya lahir di Jakarta di tengah keluarga yang non Kristen, sebagai anak ke tujuh dari sembilan bersaudara. Sejak masih bayi saya sudah diserahkan kepada tante saya (adik mama). Namun diambil kembali oleh kedua orang tua kandung saat saya duduk di kelas 6 SD. Bukanlah kasih sayang yang diterima, melainkan saya diperlakukan jauh berbeda dengan apa yang saudara-saudara saya dapatkan. Saya dipukul, diperlakukan tidak selayaknya anak dan ini berlangsung cukup lama. Kepedihan itu menimbulkan akar pahit, sakit hati dan dendam kepada orang tua.
Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik. Karena itu sejak kelas 6 SD saya mulai merokok, SMP kelas satu mengkonsumsi narkoba, kelas 3 SMP saya menjadi mengedar narkoba dan kelas 1 SMA sudah menjadi bandar narkoba. Pergaulan bebas dunia malam menjadikan hidup saya bertambah kelam, saya bergaul dengan orang-orang yang tidak baik.
Lebih dari itu saya terlibat dalam sindikat pembunuh bayaran dan memiliki ilmu bela diri termasuk ilmu hitam. Dari ilmu itu saya menaklukan laki-laki, sehingga saya memiliki 5 suami dalam waktu yang bersamaan. Dibalik pernikahan, saya terikat sangat kuat menjadi seorang LGBT, dengan memiliki 3 pasang kekasih yang saya biayai penghidupannya. Semua ini akibat kecewa dan sakit hati terhadap laki-laki.
Dengan uang yang saya miliki, saya join pabrik uang palsu di daerah Madura. Hidup saya berantakan, karena kasus narkoba, saya harus harus keluar masuk penjara sampai 4 kali. Di penjara yang ke 4 kalinya saya mengalami satu proses kehidupan, dimana saya boleh bertemu Tuhan Yesus dengan cara-Nya yang ajaib.
Ketika kehilangan seseorang yang dicintai, mengakibatkan rasa sedih yang teramat dalam, kehampaan dalam hidup itulah yang saya rasakan. Saya kehilangan seorang kakek yang yang sangat sayang pada saya, lalu satu persatu 4 suami saya meninggal dunia. Saya gagal menyuap petugas untuk keluar, saat itu mungkin Tuhan ingin berbicara bahwa uang bukanlah segalanya. Berminggu-minggu saya menangis, saya kecewa, saya putus asa dan saya merasa bahwa hidup saya tidak ada artinya lagi. Saya mau mati saja, saya ingin bunuh diri.
Tepat jam 2 malam dari ujung tembok ada satu sinar yang bercahaya semakin mendekat dan berhenti dihadapan saya. Saya melihat satu sosok baju putih, tiba-tiba memegang kedua tangan saya yang sudah memegang silet untuk bunuh diri. Dan suara itu bilang, “Kemarikan tanganmu nak dan tidak akan pernah Aku lepaskan.” Saat itu saya merasa seperti dipeluk, disayang, sesuatu yang tidak pernah saya rasakan dan yang saya tahu sekarang itulah kasih.
Dua hari kemudian ketika main ke kamar teman di blok sebelah. Saya melihat sebuah foto dan bertanya “loh ini foto siapa?”. “Ini foto Tuhan Yesuslah, Tuhan gue” jawabnya. Saya ceritakan: “Ini dia yang datang kemarin malam nemuin gue." Lantas teman saya memberitahu: “ Kalau gitu loe orang yang dipanggil Tuhan, loe dipilih Tuhan.”
Mendengar hal itu, langsung saya ludahin muka juga kamarnya. Saya bilang: “Haram, haram kafir, lebih baik gue mati dari pada terima Yesus. Gue gak mau kenal elu lagi.” Sepanjang jalan balik ke kamar, di kepala saya hanya terngiang-ngiang ucapan teman saya: “Loe dipanggil Tuhan, loe dipilih Tuhan,” Hati saya terus-terusan berontak dan menolak: “Enggak…enggak…enggak!”
Di sel saya tinggal bersama 11 orang tahanan, di situ itu ada 5 Alkitab dan 7 kitab suci lainnya, tiba-tiba terdengar suara audible: “Ambil alkitab itu nak, lalu baca.” Saya buka halaman pertama Kejadian, tapi saya tutup dan taruh Kembali. Terdengar suara itu lagi: “ Ambil alkitab itu dan baca.”
Untuk kedua kalinya saya ambil Alkitab, tiba-tiba teman saya masuk dan melihat saya sedang membaca Alkitab: “Lu ngapain pegang Alkitab? Mau masuk Kristen ya?" Saya langsung jawab: “Eh haram!" Saya tendang Alkitab itu. Untuk ketiga kalinya suara itu terdengar dengan lebih tegas lagi: “Ambil Alkitab itu nak, lalu baca.” Saya ambil Alkitab, buka bagian tengah tertulis: “Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Tidak ada satu orang pun datang kepada Bapa tanpa melalui Aku.”
Tiga hari setelah kejadian itu, kaki saya melangkah sendiri ke gereja yang ada di lapas. Saya ke gereja bukan karena paksaan, bukan karena ajakan manusia tapi karena perjumpaan pribadi yang saya alami. Semua menyambut: “Shalom Nov, shalom.” Semua orang tahu saya manusia yang susah diatur. Saat ibadah saya duduk paling depan, merasakan pergumulan yang besar di dalam hati. Hati saya berontak, banyak pertanyaan yang timbul, ingin beranjak keluar, namun seperti ada satu kekuatan besar yang membuat saya tidak bisa beranjak pergi dari gereja itu.
Saat penyembahan pertama dinaikan, saya jatuh tersungkur ke lantai, saya nangis meraung-raung minta ampun. Sekilas saya melihat potret perjalanan hidup saya yang Tuhan singkapkan, buruk dan rusak. Saat penyembahan kedua dinaikan, tiba-tiba seperti ada sesuatu yang masuk di kepala saya, seperti disiram air yang sejuk sekali. Meskipun saya memiliki segalanya, tapi saya tidak pernah merasakan sukacita, damai sejahtera yang saya rasakan seperti saat itu.
Setelah itu mulailah pro dan kontra terjadi, saya dimusuhin banyak pihak. Petugas memberitahu bahwa saya tidak bisa pulang, kalau saya tidak ada absen kehadiran di tempat yang seharusnya saya berada. Saya hanya bilang tidak apa-apa saya bebasnya lama, asal tolong jangan larang saya menyembah Tuhan yang saya percayai. Dan saya bersyukur petugas mengizinkan saya menyembah Tuhan yang saat itu saya percayai. Bertahun-tahun di dalam penjara, doa saya hanya satu yaitu Tuhan ini hidup saya, yang saya serahkan kepada Tuhan.
Seiring berjalannya waktu saya hanya belajar Firman Tuhan, belajar berdoa. Sampai akhirnya saya bebas pada tanggal 9 November 2016. Ketika bebas, di depan pintu lapas, saya bilang: “Tuhan saya mau masuk lagi ke lapas, tapi bukan jadi napi, namun jadi berkat buat semua teman-teman yang ada di dalam." Jujur selepas keluar penjara saya bingung mau kerja apa? Karena sejak dari kecil saya biasa hidup di dunia narkoba. Jadi, apapun saya kerjakan untuk dapat menyambung hidup.
Saat itu saya sudah bergabung dalam satu komunitas yang rata-rata mantan napi dan wanita malam. Saya berada di dalam yayasan yang melayani ke lapas-lapas. Saya terus belajar taat, belajar setia di tengah proses yang sangat tidak enak. Saat pertama kali terjun di dunia pelayanan, saya masih merokok, saya belajar lepas dari narkoba, belajar lepas dari minuman keras, lepas dari sex bebas, belajar lepas dari cari uang dengan mudah tapi dengan cara yang salah dan belajar lepas dari keterikatan terhadap sesama jenis ( LGBT). Saya mau hidup dikuasai Roh.
Hidup sendiri di tengah proses, dimusuhi keluarga, teman, membuat iman saya semakin bertumbuh, semakin mengenal Tuhan. Perlahan namun pasti. Akhirnya secara pribadi saya melayani anak-anak jalanan. Jam 12 malam saya keluar membawa termos panas dan kopi. Setiap ada orang yang tidur di pinggir jalan saya tawarkan kopi, menyaksikan tentang kebaikan Tuhan itulah awal pelayanan saya. Mulai melayani banyak orang termasuk kaum LGBT, dan Tuhan kirim mereka yang baru bebas dari lapas yang masih bingung memilih jalan, karena tujuan saya hanya satu, yaitu supaya mereka bisa mengalami dan melihat kasih Tuhan Yesus dalam hidup mereka.
Seiring berjalannya waktu, Tuhan menyediakan berkat yang luar biasa. Dalam sekejap saya memiliki beberapa usaha, tetapi saya tetap mengutamakan pelayanan. Saya pernah berdoa; ingin kuliah Teologia supaya bisa benar-benar mengerti kebenaran, ketika saya melayani saya tidak asal dalam menyampaikan Firman Tuhan. Dan Tuhan menjawab doa, kuliah saya selesai sampai wisuda.
Namun jalan tidak selamanya mulus, satu persatu usaha yang kami miliki tutup dan kami mengalami kesulitan. Hingga akhirnya saya dan suami pindah ke daerah Cileungsi, menumpang di rumah seorang teman selama 8 bulan. Puji Tuhan keadaan ini tidak mengubah iman saya kepada Tuhan Yesus. Sampai akhirnya suami mendapatkan pekerjaan dan kami mengontrak sebuah rumah. Tuhan pelihara hidup kami.
Saya berdoa minta tuntunan Tuhan tempat dimana saya bisa bertumbuh. Tidak kebetulan sahabat saya mengajak beribadah ke GBI Grand Nusa Indah (GNI). Awalnya kaget dengan suasana yang sangat berbeda, namun saya jalani saja hingga saya merasa nyaman, saya merasa mempunyai keluarga baru dan bergabung di COOL. Kami bisa saling sharing, saling mendoakan, saling melengkapi bertumbuh bersama.
Seiring dengan berjalannya waktu saya semakin bertumbuh, dengan melihat banyak perbuatan Tuhan yang ajaib, yang luar biasa; melewati kanan kiri saya. Dan Puji Tuhan, Tuhan percayakan saya untuk menjadi gembala COOL Kids. Bersyukur buat hidup yang Tuhan beri. Banyak perkara yang harus kami lewati, namun Tuhan selalu menyertai dan tidak pernah meninggalkan kami, sebab Dia Allah yang setia. Terima kasih Tuhan Yesus atas anugerah-Mu dalam hidupku.