BERKAT-BERKAT HUKUM TAURAT DALAM KEHIDUPAN GEREJA

05 Jun, 2016

Pengajaran hyper grace memiliki pandangan negatif tentang Taurat, ajaran ini melihat bahwa salah satu tugas Yesus Kristus datang kedalam dunia ini adalah untuk meniadakan hukum Taurat. Bagi mereka yang menganut ajaran ini, Taurat itu tidak ada tempat lagi dalam kehidupan manusia, mengapa? Karena mereka percaya bahwa salah satu tugas Yesus datang kedalam dunia ini adalah untuk meniadakan hukum Taurat yang begitu mengikat kehidupan umat Allah, akibatnya mereka hanya melihat Taurat itu dari kacamata negatif. Taurat tidak memiliki tempat di dalam kehidupan orang Kristen dan mereka curiga dengan setiap aturan gereja yang dianggap sebagai bayang-bayang hukum Taurat.

Mayoritas gereja percaya bahwa kita diselamatkan karena anugerah Tuhan, karena kasih karunia di dalam Yesus Kristus, namun perihal taat kepada hukum-hukum Tuhan, moralitas saat ini sudah mulai ditinggalkan oleh banyak gereja. Martin Luther melihat pelaksanaan Taurat adalah bukti orang yang hidup berdasarkan iman. Dalam Yakobus 2:18 dikatakan bahwa, “Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” Dalam suratnya ini Yakobus menegaskan bahwa orang yang mengatakan saya memiliki iman tetapi saya tidak memiliki perbuatan, itu adalah iman palsu, iman yang mati.

Hukum Taurat terdiri dari 3 bagian:
1. Hukum Sipil yaitu hukum yang mengatur bagaimana umat Allah hidup bermasyarakat.
2. Hukum Seremonial berisi tata cara peribadatan, misalnya mengenai korban bakaran.
3. Hukum Moral yaitu hukum yang mengatur relasi umat dengan Tuhan dan sesamanya, termasuk di dalamnya adalah “10 perintah Allah.”

Saat ini hukum sipil dan hukum seremonial tidak berlaku bagi orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi hukum moral masih berlaku sampai sekarang.

Alkitab memberikan begitu banyak bukti ayat bahwa Tuhan Yesus mengutip hukum Taurat. Dengan demikian Tuhan Yesus tidak pernah memandang hukum Taurat sebagai hal yang negatif atau hal yang tidak perlu, buktinya:

1. Sebagai manusia yang sejati Yesus tetap taat kepada hukum Taurat
Di dalam Lukas 2:40-52 kita melihat bagaimana Yesus itu begitu taat kepada hukum Taurat, Dia belajar hukum Taurat, Dia menjadi Anak yang taat kepada orangtua semuanya bisa Tuhan Yesus lakukan karena tuntutan daripada hukum Taurat.

2. KristusMeneguhkanHukumTaurat
Dari pengajaran Yesus dan pengajaran murid-murid, kita bisa melihat perkataan Yesus di dalam Matius 5:17 yang mengatakan bahwa. “Aku datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, tetapi Aku datang untuk menggenapi hukum Taurat”.
Kata “menggenapi” di sini seringkali di salah artikan, banyak orang mengartikan ayat ini dengan: “orang Kristen tidak perlu lagi hukum Taurat, karena sudah digenapi oleh Tuhan Yesus” ,dalam bahasa Yunani, kata menggenapi bermakna “mengisi”, serupa dengan mengisi tempayan dengan air ataupun alat takaran dengan gandum. Di sini kata ini di pakai dalam arti kiasan: Yang belum lengkap, dijadikan lengkap; ajaran hukum dan para Nabi yang selama ini belum cukup dipahami dan belum dilihat semua implikasinya, diperjelas oleh Yesus. Intinya Tuhan Yesus ingin mempertegas arti hukum Taurat di dalam Perjanjian Baru.

3. Kristus lebih tinggi dari Hukum Taurat
Musa diagungkan oleh orang Yahudi sebagai pemberi hukum Taurat, tetapi dalam Ibrani 3:3; 5-6, menyatakan bahwa Yesus itu jauh lebih tinggi daripada Musa. Yesuslah yang memberikan hukum Taurat itu kepada Musa, bukan Musa yang memberikan hukum Taurat kepada bangsa Israel, Musa hanyalah sebagai perantara kepada orang Israel.

Bangsa Israel adalah bangsa pilihan yang diberkati oleh Tuhan. Tuhan memberkati bangsa itu dengan hikmat dan kecerdasan yang lahir dari pergaulan dengan hukum Taurat sehingga bangsa Israel menjadi bangsa yang cerdas. Memang mayoritas dari mereka masih menolak pewahyuan Yeshua sebagai Mesias; namun berkat-berkat jasmani yang dinikmati sebagai akibat pergaulan mereka dengan hukum Taurat sangat dirasakan dan diakui oleh dunia.

Kepada gereja Perjanjian Baru Rasul Paulus mengatakan dalam 2 Timotius 3:16-17, “Segala tulisan yang diilhamkan oleh Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk mendidik orang di dalam kebenaran”. Dalam konteks ini yang dimaksud segala tulisan adalah Alkitab Perjanjian Lama. Lalu di dalam1 Yohanes 5:3 dikatakan, “Sebab inilah kasih kepada Allah yaitu bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya”, di sini ditunjukkan bahwa setiap orang yang berkata ia mengasihi Allah, orang itu pasti menuruti perintah-perintah-Nya. (FB)

“Aku datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, tetapi Aku datang untuk menggenapi hukum Taurat”
(Matius 5:17)


Quote:
Menggenapkan hukum sama artinya dengan membawanya ke dalam kepenuhan takaran yang dikehendaki oleh Allah, sedangkan kepenuhan itu sama dengan “KASIH”.
Kasih adalah puncak segala hukum. Maka, hukum menjadi genap
bila puncaknya ditempati oleh kasih- L.Deiss

GBI Jalan Jend Gatot Subroto