KRISTEN SOMBONG TIDAK BERTUMBUH

25 Aug, 2019

KRISTEN SOMBONG TIDAK BERTUMBUH

"Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak,

aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak.

Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.

Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar,

tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka.

Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna,

tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal."

1 Kor 13:11-12

MANDAT UNTUK BERTUMBUH

Paulus mengingatkan jemaat Korintus untuk bertumbuh dewasa. Dalam 1 Korintus 13 ini, kita bisa melihat seolah-olah ia ingin mengatakan bahwa sifat kedewasaan itu dicapai melalui kematangan kasih dan ditinggalkannya sifat kekanak-kanakan. Sehingga pada saat kita bercermin, awalnya kita masih melihat secara samar-samar, tetapi nantinya kita akan melihat kasih itu (Karakter Yesus) makin jelas. 

Pesan ini sejalan dengan perumpamaan Yesus tentang pohon ara yang ditanam di kebun anggur (Lukas 13:6-9). Anugerah Tuhan membuat kita yang tadinya berada di luar perjanjian Allah, menjadi ditanam di dalam Perjanjian Allah. Ini digambarkan seperti pohon ara yang ditanam di sebuah kebun anggur. Pohon itu diharapkan dan dimaksudkan untuk bertumbuh dan berbuah, apalagi pohon itu sudah menerima fasilitas yang seharusnya hanya diterima oleh pohon anggur yang di dalam. Kesimpulan sederhana yang bisa kita ambil dari 2 perumpamaan ini adalah "Orang Kristen Wajib Bertumbuh."

NEPHIOS MENJADI ANER

Menurut kamus STRONG, kata 'kanak-kanak' dalam I Korintus 13 ini berasal dari bahasa Yunani νήπιος (Nephios) yang diterjemahkan sebagai bayi (jasmani), orang yang pikirannya pendek atau orang Kristen yang belum matang.

Kamus THAYER menambahkan dengan satu terjemahan yang menarik, yaitu 'untaught' (belum diajar) dan 'unskilled' (belum terlatih). 

Sementara kata 'dewasa' dalam pasal ini berasal dari kata Yunani ἀνήρ (Aner). Baik kamus STRONG maupun kamus THAYER, menerjemahkannya sebagai orang/pria dewasa yang diakui kematangannya.  Kematangan kedewasaan yang dimaksudkan oleh Paulus adalah sebuah kualitas pribadi dewasa yang diakui dan terlihat oleh sesama.

Paulus mengajar agar kita meninggalkan sifat kanak-kanak dan menjadi dewasa.  Tinggalkan sifat 'Nephios' dan memiliki sifat 'Aner'.  Sifat Nephios terlihat dari cara berkata-kata (Yun: 'Laleo'), cara merasakan (Yun: 'Phroneo') dan cara berpikir (Yun: 'Logizomai').  Tiga indikator ini mudah terlihat dalam hidup keseharian. 

INDIKATOR KEDEWASAAN

Ada 3 indikator yang bisa kita lihat di dalam kedewasaan rohani seseorang, yaitu:

1.    Cara Berkata-kata (Laleo)

 Dari kata-kata yang sering diucapkan, pendengar akan dapat menyimpulkan kepentingan utama seseorang di setiap percakapan; bagaimana pemilihan kata dan kalimatnya, tingkat kematangan penyampaian nada dan intonasi, serta perlakuan terhadap lawan bicara.

Percakapan menjadi media untuk menilai dan mendalami pribadi seseorang. Bukankah menarik, bila kita membandingkan dengan hasil survei, bahwa salah satu masalah terbesar dalam hidup adalah komunikasi?

2.    Cara Merasakan (Phroneo)

Phroneo memiliki arti sebagai cara merasa atau cara mengerti, memahami, menyerap dan menangkap sesuatu. Hal ini amat ditentukan oleh wawasan yang dimiliki, gambar diri orang Kristen itu, dan informasi yang ia terima/tangkap dan kematangan emosional.

  • Apa yang akan orang Kristen lakukan dalam ketidakadilan?
  • Bagaimana menghadapi tekanan?
  • Apakah perlu menghadapi sebuah konflik dan kapan menghindarinya?
  • Mampukah membedakan hal yang dihadapi itu tekanan atau dorongan?

3.    Cara Berpikir (Logozomai)

Logizomai memiliki arti sebagai cara berpikir. Logizomai akan nampak lewat kata-kata, keputusan, sikap dan tindakan seseorang. Apa respon orang Kristen bila dalam tekanan atau masalah, bagaimana cara ia bertindak atau melangkah, bagaimana etika dalam tindakannya, bagaimana ia menjaga agar tindakannya tidak merugikan orang lain.

Mampu bertindak dalam hidup itu adalah satu hal, tetapi bertindak tanpa merugikan orang lain adalah hal lain lagi. Keseluruhan tindakan seseorang menunjukkan pikiran orang itu. Menarik untuk dicermati, dunia psikologi menyatakan kehidupan seseorang bergantung sekitar 80% pada tindakan orang itu sendiri, dan hanya sekitar 20% dipengaruhi oleh tindakan orang lain.

Memahami ketiga indikator di atas adalah objek pembentukan, ditambah pemahaman bahwa Tuhan mau semua orang Kristen menjadi dewasa secara rohani dan jiwani. Maka tidaklah heran bila Paulus dalam surat kepada jemaat di Roma mengatakan bahwa Allah memakai segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, yaitu perubahan karakter menjadi seperti Yesus Kristus. (Roma 8:28-29)

Semua hal, baik yang manusia Kristen sukai maupun tidak, dihadirkan dan digunakan Allah untuk proses perubahan. 'Nephios' berubah menjadi 'Aner'.

Kehidupan Kristen bukanlah seperti lari cepat 100 meter,

tetapi seperti lari marathon yang akan menguji stamina rohani kita sampai batas. 

Tidak pernah ada kematangan instan ataupun kekudusan instan.

J. Oswald Sanders

KESOMBONGAN ADALAH MUSUH PERTUMBUHAN

Pengertian sifat anak-anak (nephios) salah satunya adalah untaught (belum diajar) dan unskilled (belum dilatih).

  • Diajar berarti proses dilengkapi dengan pemahaman, pengetahuan, etika dan kecerdasan yang diperlukan.
  • Dilatih berarti proses penguasaan penerapan dari semua pengetahuan yang diajar dan akumulasi pengalaman.

Kedua proses ini tidak mungkin dilalui sendiri atau mandiri. 

Orang Kristen butuh manusia lain untuk terlibat dalam kedua proses ini. Baik superior di atas seseorang, atau sejajar di sekitar seseorang dan subordinat di bawah seseorang. 

Seperti kata Amsal 27:17,

"Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya."

Dengan demikian,  apakah orang yang sombong dapat ditajamkan?

Thomas Aquinas mengutip Gregorius Agung, menggolongkan kesombongan dalam 4 hal:

1.     Merasa bahwa segala yang baik, yang ada, berasal dari dirinya sendiri. Dirinya benar, orang lain salah. Dirinya baik, orang lain kurang baik.

2.     Merasa semua yang baik berasal dari Tuhan, namun karena jasa dan usahanya. Yang baik hanya Tuhan dan dirinya. 

3.     Membanggakan sesuatu yang tidak dimilikinya.

4.     Membanggakan yang tidak ada atau pernah ada dan sekarang tidak ada lagi.

Memandang rendah orang lain dan merasa sebagai satu-satunya pemilik dari apa yang dimilikinya.

Empat hal di atas jelas menunjukkan bahwa orang Kristen yang sombong akan sulit dibentuk dan bertumbuh. Bagaimana bisa dibentuk bila orang itu merasa dirinya sudah baik? Kebutuhan untuk diperbaiki tidak dirasakan oleh orang Kristen yang sombong ini.  Orang yang tidak bisa menerima mentoring dari superiornya, akan gagal melihat orang lain berada antara dirinya dan Tuhan. Akibatnya, bila Tuhan sedang memakai orang-orang di sekitarnya, untuk membentuknya, maka orang Kristen sombong ini akan sulit menerima masukan apalagi teguran untuk perubahan dan pertumbuhan dirinya. Tidak heran dari 7 perkara yang dibenci Tuhan, kesombongan berada di urutan pertama. (Amsal 6: 16-19) 

KERENDAHAN HATI ADALAH KUNCI PERTUMBUHAN

Bertumbuh menjadi seperti Yesus akan membawa orang Kristen naik dari kemuliaan kepada kemuliaan yang lebih besar. Orang Kristen yang tinggi hati akan direndahkan, tetapi orang yang rendah hati akan ditinggikan. (Lukas 14:11)

Dalam proses diajar dan dilatih, Tuhan menuntun tiap orang Kristen untuk lulus dengan baik dalam proses masing-masing. Mereka yang rendah hati akan mudah dituntun oleh Tuhan. (Mazmur 25)

Ketika dalam proses pembentukan itu, orang Kristen bisa merasa kehilangan akal, bahkan merasa kehilangan harapan, maka hikmat dari Tuhan akan mengalir dan memenuhi orang Kristen yang rendah hati. (Amsal 11:2b)

Dalam proses yang dilalui untuk meninggalkan sifat kanak-kanak, tidak jarang seolah Tuhan meremukkan seseorang dengan proses yang berat. Namun dalam keadaan demikianpun, orang Kristen yang rendah hati akan menemukan Tuhan dekat tinggal bersamanya. (Yesaya 57: 15)

Akhirnya orang Kristen yang rendah hati akan mewarisi janji Allah dan hidup sejahtera dalam rencana dan kehendak-Nya. (Mazmur 37: 11)

Bukankah lucu, bagaimana hari lepas hari seperti tidak ada yang berubah,

namun ketika Anda melihat ke belakang,

ternyata semuanya sudah berbeda.

C.S.Lewis