TIDAK CUKUP HANYA IMAN SAJA?

11 Jul, 2022

Tanpa disadar, tidak sedikit orang Kristen yang cukup puas hanya sekedar menjadi Kristen! "Yang penting kan saya sudah lahir baru dan baptis selam!" atau "Yang penting kan saya sudah rajin ke gereja dan memberikan persembahan!" Kira-kira itulah beberapa alasan yang diungkapkan oleh mereka yang berpuas diri dan tidak mau terus mengalami pertumbuhan secara rohani. Gembala Jemaat Induk/Gembala Pembina kita menyampaikan pesan Tuhan yang terambil dari 2 Petrus 1:5-11, "Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh
untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus."

Jika kita membaca ayat tersebut di atas sepintas lalu saja, mungkin kita akan berpikir
bahwa rasul Petrus sedang mengajarkan bahwa untuk diselamatkan tidak cukup hanya dengan iman kepada Tuhan Yesus, dan ini bertolak belakang denga napa yang ditulis Paulus dalam Efesus 2:8-9. Tentunya tidak demikian pemahamannya! Dalam konteks pembenaran (justification) kita diselamatkan oleh iman karena kasih karunia Allah. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita hidup sebagai orang percaya setelah menerima keselamatan tersebut? Kita tidak mungkin menghidupi kehidupan manusia lama kita (Roma 6:1-5; 2 Kor 5:17).
Dalam ayat bacaan kita diatas, rasul Petrus menyatakan bahwa dalam hidup kita sebagai orang percaya, ada hal-hal yang perlu kita tambahkan kepada iman kita dengan sungguh-sungguh berusaha, yakni: kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara dan kasih akan semua orang. Catatan Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan mengnai ayat ini menyatakan: "Ini adalah sifat-sifat baik
yang harus dikembangkan oleh orang Kristen supaya menang dan berbuah secara rohani di

hadapan Allah (2 Pet 1:8). Frasa "sungguh-sungguh berusaha" atau dalam versi terjemahan NIV dikatakan "berusaha sekuat-kuatnya", menunjukkan bahwa orang percaya harus terlibat secara aktif dalam pertumbuhan Kristen. Mereka yang menjadi orang Kristen harus langsung berusaha untuk menambahkan ketujuh sifat ini kepada iman mereka. Rasul Petrus menyampaikan paling tidak ada 4 (empat) dampak jika kita menambahkan ketujuh sifat tersebut dalam hidup kita, yakni:
a. Kita menjadi giat dan berhasil dalam pengenalan kita akan Yesus Kristus.
Setiap orang percaya yang ingin bertumbuh pasti memiliki kerinduan untuk mengenal Kristus lebih dan lebih lagi, sebagaimana halnya Paulus (Fil 3:10). Tentunya diperlukan upaya dan kesungguhan hati untuk belajar dan dimuridkan, perlu kerendahan hati untuk dibentuk melalui setiap proses dalam kehidupan. Jika kita menambahkan ketujuh sifat tersebut maka kita akan menjadi giat dan berhasil dalam pengenalan kita akan Tuhan Yesus Kristus.

b. Kita tidak menjadi orang percaya yang buta dan picik.
Kata "picik" secara harfiahnya adalah "berkedip", "kedipan isyarat", atau "mengerling". Kata ini digunakan secara kiasan bagi orang yang mencoba untuk melihat dengan jelas, tetapi tidak mampu, kemungkinan dengan sengaja berpaling dari cahaya. "Buta" dan "picik" menyiratkan orang-orang percaya yang telah dipikat kembali ke gaya hidup duniawi yang tak ber-Tuhan oleh guru-guru palsu. Gaya hidup seperti ini tidak membawa sukacita dan damai sejahtera, merintangi penginjilan, menghancurkan pelayanan yang efektif serta mengakibatkan kematian dini.

c. Kita tidak akan pernah tersandung.
Kata "tidak akan pernah tersandung" adalah sebuah peringatan yang mengejutkan dari rasul Petrus. Ia ingin menegaskan bahwa keselamatan adalah aman (1 Pet 1:4-6), tetapi harus dipertahankan. Pesan peringatan yang sama disampaikan Yudas dalam Yudas 1:24. Jika kita menambahkan pada iman kita ketujuh sifat tersebut diatas, kita tidak akan pernah tersandung, artinya kita menjaga keselamatan kita dengan baik.

d. Kita akan dikaruniakan hal penuh untuk memasuki Kerajaan Kekal.
Karena kelalaiannya, beberapa orang percaya hampir tidak akan masuk Kerajaan Kekal (1 Kor 3:15), sedangkan yang lain yang tetap kokoh dalam kekudusan akan disambut dengan penuh hormat (Mat 25:21; Kis 7:55-56; 2 Tim4:7-8, 18).

Itu sebabnya penting sekali bagi kita untuk menambahkan kepada iman kita: kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara dan kasih akan
semua orang. Amin (DL)

 

GBI Jalan Jend Gatot Subroto