PERSEMBAHAN TERBAIK BAGI KRISTUS

04 Jan, 2017

Natal telah tiba!

Dalam merayakan Natal kita berusaha untuk memberikan sesuatu yang terbaik bagi keluarga, sahabat dan siapa saja yang kita kenal atau yang bertalian dengan usaha, pelayanan dan pekerjaan kita. Tetapi pernahkah terlintas dalam hati dan pikiran kita: “Apakah yang terbaik yang dapat saya persembahkan bagi Tuhan Yesus Kristus?” Tuhan telah memberikan yang terbaik bagi hidup manusia yaitu diri-Nya sendiri dengan berinkarnasi menjadi manusia, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan hidup kekal bersama Dia.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16

Maukah kita memberikan persembahan yang terbaik bagi Tuhan Yesus Kristus? Apakah persembahan terbaik yang bisa kita berikan kepada-Nya? Persembahan terbaik kita adalah hati kita. Hati manusia adalah bagian yang paling menarik bagi Tuhan, mengapa?  Tuhan Yesus berkata di Lukas 6:45; “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” Hati manusia adalah pusat perhatian-Nya, seperti Firman-Nya kepada nabi Samuel di saat memilih Daud sebagai raja atas bangsa Israel: “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” 1 Samuel 16:7

Melalui Kisah Para Rasul 15:16-17 kita bisa melihat hati Daud bin Isai yang telah menyentuh hatinya Tuhan: “Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milik-Ku demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini.” Mengapa Tuhan sendiri yang akan kembali dan membangunkan Pondok Daud yang telah roboh? Karena Tuhan mempunyai kenangan dengan Daud. Daud adalah seorang yang mengejar hatinya Tuhan dan yang menyerahkan hatinya kepada Tuhan. Memang secara fisik struktur bangunan pondok Daud itu sederhana, tetapi di dalam pondok itu ada banyak peristiwa perjumpaan antara Daud dengan Tuhan. Gereja akhir zaman strukturnya lebih rumit dan materialnya mahal, pertanyaannya adalah apakah di dalam gedung gereja kita ada banyak peristiwa perjumpaan antara umat dengan Tuhannya?

Daud memasuki dimensi roh bersama Allah yang belum pernah dilakukan oleh siapapun, sampai-sampai dengan begitu bangga, Tuhan Yesus bicara tentang hubungan-Nya dengan Daud: “Aku, Yesus, telah mengutus malaikat-Ku untuk memberi kesaksian tentang semuanya ini kepadamu bagi jemaat-jemaat. Aku adalah tunas, yaitu keturunan Daud, bintang timur yang gilang-gemilang.”  Wahyu 22:16

Memberikan hati kita kepada Tuhan, itulah persembahan yang terbaik. Paling tidak kita bisa melihat bahwa ada tiga bukti dari kehidupan Daud bahwa ia telah memberikan hatinya kepada Tuhan;

1. Daud Memprioritaskan Persekutuan dengan Tuhan
“Mazmur Daud, ketika ia ada di padang gurun Yehuda. Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair.” Mazmur 63:2

Dengan terbuka Daud menunjukkan gairah dan pemujaannya terhadap Tuhan. Daud tidak cuma berpikir saja tentang keintiman dengan Tuhan, tetapi ia bicara dan melakukannya.

“Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.” Mazmur 119:11

Ia menjaga hatinya dengan Firman Tuhan supaya tidak berdosa, karena ia tidak mau persekutuannya dengan Tuhan menjadi terganggu karena dosa. Bagaimana dengan kita? Memang kehidupan yang kita jalani saat ini penuh dengan godaan; tidak sedikit tawaran demi tawaran datang melalui teman, saudara, lingkungan untuk berbuat dosa atau hidup secara duniawi.

Tidak sedikit orang Kristen yang sering ke gereja tetapi sering juga membiarkan dirinya jatuh kedalam dosa, sehingga persekutuannya dengan Tuhan menjadi rusak. Namun ketika kita memiliki hati seperti Daud yang memprioritaskan persekutuannya dengan Tuhan, maka kita akan mengalami tingkat keintiman dengan Tuhan yang semakin dalam sehingga perkenanan Tuhan senantiasa kita alami.

2. Daud Memiliki Hati yang Taat Kepada Tuhan

“Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.” Kisah Para Rasul 13:22

Dengan bangga Tuhan mengatakan bahwa Daud akan melakukan apa saja yang Ia ingin agar Daud lakukan. Jadi sepertinya di mata Tuhan ada perbedaan antara hati orang yang memang condong pada dosa, tertuju pada dosa, menikmati dosa, pokoknya bertekad tidak menaati Tuhan versus hati yang tertuju kepada Tuhan, mau setia, mempunyai tekad menuju gaya hidup kudus; dalam ketidaksempurnaan manusianya.

Tuhan tahu bahwa Ia bisa mengandalkan Daud untuk melayani Dia, memuji Dia bahkan kalau perlu mempertaruhkan hidupnya untuk menyenangkan Tuhan, dan mengorbankan segalanya untuk mewujudkan kehendak Tuhan. Bahkan di dalam kedudukannya sebagai raja, Daud tetap mempertahankan Allah sebagai prioritasnya dan tetap tergantung kepada Tuhan.

Bagaimana dengan kita, apakah kita memiliki hati yang taat kepada Tuhan? Ada banyak alasan untuk kita tidak bisa mentaati kehendak Tuhan seperti; hati kita yang dilukai karena dikhianati, diperlakukan dengan tidak adil, mengalami sakit penyakit, kebutuhan hidup, harga diri yang diinjak-injak, sehingga kita membunuh, mendendam, menyimpan kebencian, mencuri, korupsi, berbohong, pergi kedukun dan lain sebagainya. Masih ada segudang alasan untuk kita tidak taat kepada Tuhan. Namun, ketika kita memiliki hati yang taat kepada Tuhan, apapun keadaannya baik susah maupun senang, baik ketika di atas maupun di bawah, baik ketika sehat mapun sakit namun kita tetap memiliki hati yang taat kepada Tuhan maka kita tidak akan keluar dari hadirat-Nya. Di dalam hadirat Tuhan kita akan terus menerima penyingkapan pewahyuan demi pewahyuan, sukacita, kuasa, damai sejahtera Tuhan dan kasih-Nya yang berlimpah-limpah yang dunia tidak bisa berikan.

3.  Daud Sungguh-sungguh Bertobat

Sebagai seseorang yang memiliki hati yang memprioritaskan persekutuannya dengan Tuhan dan memiliki hati yang taat kepada Tuhan, Daud dalam ketidaksempurnaannya juga pernah jatuh ke dalam dosa. Namun ketika dia sadar akan dosanya, respon Daud benar di mata Tuhan.

“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.” Mazmur 51:3-6

Daud tidak menunda-nunda waktu lagi, ia berseru kepada Tuhan, dia memohon belas kasihan, pengampunan, pengudusan dan pembebasan dari Tuhan. Ketika diperhadapkan kepada dosanya, bisa saja ia menyalahkan Betsyeba dan lain-lain (seperti yang banyak dilakukan orang) namun ia tidak lakukan itu. Ketakutan terbesarnya bukanlah kehilangan istana, jabatan, hartanya, melainkan adalah kehilangan hadirat Raja Kemuliaan. Ia sangat takut kehilangan keintiman dengan Tuhan. Ia berseru di Mazmur 51:13-14, “Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!”

Pertobatan sejati adalah menyesali dosa-dosa kita dengan suatu dasar bahwa kasih kita kepada Tuhan lebih besar daripada hasrat untuk dosa apapun dan dengan pertolongan Tuhan bertekad untuk tidak berbuat dosa lagi. Pertobatan sejati juga disertai janji dan bukti serta mau mengajar orang lain menghindari dosa dan konsekuensi-konsekuensinya. Seperti yang Daud lakukan: “Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.” Mazmur 51:15

Bagaimana dengan hidup kita? Masih banyak orang yang terikat oleh dosa, dan sudah saatnya pertobatan kita menghasilkan buah yaitu kita mau mengajarkan jalan-jalan Tuhan agar manusia yang berdosa berbalik kepada Tuhan sebab kalau bukan kita siapa lagi? Dan kalau bukan sekarang kapan lagi?

Natal berbicara tentang memberikan yang terbaik kepada Tuhan Yesus, karena Dia telah memberikan yang terbaik  yaitu hidup-Nya sendiri untuk keselamatan umat manusia. Marilah kita berikan persembahan yang terbaik bagi Kristus yaitu hati kita sehingga kita tidak kehilangan makna Natal yang sesungguhnya.

Selamat hari Natal 2016, kiranya Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua. (FM)

GBI Jalan Jend Gatot Subroto