SEMUA KARENA ANUGERAHNYA

25 May, 2020

Shalom,
Perkenalkan nama saya Pita, saya berjemaat di BIC Denver. Pada tanggal 18 Maret 2020 saat saya menyetir mobil pulang kerja dari Healthcare, tiba-tiba saja tenggorokan saya gatal seperti batuk kering dan malamnya badan saya meriang. Keesokan harinya badan saya benar-benar lemas, saya juga merasakan panas, mual, pusing dan buang-buang air besar. Mulut ini terasa pahit sehingga tidak bisa masuk makanan sama sekali, karena nafsu makan saya juga hilang. Tidak pernah terbesit dalam pikiran saya kalau itu gejala COVID-19, saya masih berpikir mungkin saya masuk angin. Jadi seharian itu suami sayalah yang mengurus dan menjaga saya.

Karena tidak kunjung membaik maka saya pergi berobat ke dokter, kata dokter saya mengalami infeksi tenggorokan. Setelah beristirahat, keesokan harinya keadaan saya agak membaik panasnyapun sudah tidak ada lagi.

Tetapi pada malam harinya gantian suami saya yang meriang, esok harinya ia mengalami gejala yang sama seperti yang saya alami. Saya langsung membawanya ke dokter, di mana pada saat itu kondisi tubuh saya juga kembali drop.

Dalam keadaan kondisi tubuh yang tidak menentu, sebagai ibu dari 2 orang anak saya tetap bertanggung jawab mengurus kedua buah hati saya Jovan 15 tahun dan Kellen 10 tahun. Puji Tuhan dalam kondisi yang seperti ini saya banyak dibantu bukan hanya dalam doa tetapi juga perhatian dari teman-teman sepelayanan dari gereja, keluarga rohani yang membantu memberikan makanan yang ditaruh di depan pintu rumah saya.

Pada hari Minggu pagi anak saya Jovan tidak mau makan, dia hanya bilang "sakit" dan sampai pada malam harinya kondisi Jovan drop. Jovan tidak berani bilang kalau sakit dan gejala yang dialaminya sama dengan papa, mamanya. Setelah saya cek suhu tubuhnya, panasnya mencapai 38,9.

Karena tidak ada perubahan yang membaik maka saya dan suami kembali berobat ke dokter, di sana kami juga menjalani test COVID-19 untuk hasilnya kami harus menunggu selama 5 hari kerja. Saya tidak membawa serta anak-anak, mengingat kondisi rumah sakit saat itu sudah banyak antrian panjang yang sakit. Cukup dari obat yang harus kami minum, itu juga yang saya berikan untuk anak saya karena gejala sakit kami sama.

Karena kondisi yang semakin memburuk setiap malam kami batuk terus menerus yang membuat kami semakin lemah, akhirnya karena sudah tidak tahan lagi suami saya pergi ke rumah sakit dan dirawat di sana selama 4 hari. Kebetulan suami mempunyai riwayat sakit Diabet dan kolestrol yang membuat daya tahan tubuhnya menurun. Kami pun sudah mendapatkan hasil test COVID-19 dan hasilnya kami positif COVID-19

Mengapa hanya suami saya saja yang dirawat di rumah sakit? Mengingat saya mempunyai 2 orang anak yang harus saya jaga, karena kalau saya titipkan ke orang lain belum tentu juga ada yang mau, mengingat kami semua sakit. Puji Tuhannya kami tidak mengalami sesak nafas sehingga masih dapat bertahan, sehingga saya isolasi mandiri di rumah saja.

Pada saat masa kritis itu usaha yang saya lakukan adalah rutin minum vitamin, obat dokter. Berhubung tidak bisa masuk makanan sama sekali dan mual jadi saya minumkan obat maag terlebih dahulu, setelah itu baru saya paksakan makan walau hanya 1-2 sendok saja. Selain itu saya minum juice dan susu untuk menambah tenaga.

Perasaan yang saya rasakan pada saat itu adalah saya merasa sedang berada di ambang kematian. Karena saya tidak bisa tidur, tidak bisa masuk makanan, terlebih nafas ini seperti sudah di tenggorokan. Belum lagi secara roh kita juga diserang, saya benar-benar tidak mempunyai daya untuk membaca firman Tuhan ataupun mendengarkan lagu-lagu rohani. Belum lagi ditambah mendengar berita-berita tentang penderita Covid-19 yang meninggal, jadi waktu itu ibaratnya saya juga sedang antri menuju gerbang kematian. Pada saat itu saya benar-benar berada pada titik terendah.

Saya bersyukur buat setiap doa-doa dari orang-orang yang ada di sekeliling saya, ada banyak doa yang dinaikkan buat kami terus-menerus, itulah yang membuat kami bisa keluar dari masa kritis. Karena saat itu saya seperti tidak mempunyai kekuatan, seperti sudah diserang secara jasmani dan rohani.

Ketika ada banyak yang berdoa, saya jadi mempunyai setitik pengharapan. Saya ingat kalau masih memiliki anak yang masih kecil yang harus diurus. Dari doa dan pengharapan yang saya naikan kepada Tuhan juga dukungan doa-dari gereja, gembala, keluarga dan teman-teman yang terus mengalir memberikan kami kekuatan. Karena doa Tuhan bergerak menolong kami, Ada banyak yang berdoa buat kami sehingga kami dapat keluar sebagai pemenang.

Yang luar biasanya Tuhan itu, proteksi Tuhan buat Kellen anak saya yang bungsu. Mengingat selama 3 malam Kellen tidur bareng sekamar walau pun beda tempat tidur, kalau bukan karena Tuhan, mungkin ia sudah terpapar.

Setelah banyak hal yang boleh kami lewati, kalau saya boleh ada sampai hari ini, semua karena kemurahan dan kebaikan Tuhan bagi keluarga kami. Saya sangat yakin dan percaya Tuhan Yesus selalu ada menyertai, sekalipun saya berada dalam lembah kelam; di titik terendah, Tuhan Yesus selalu ada di sana untuk menolong.

Terlebih lagi dukungan doa yang sangat kami butuhkan pada masa-masa itu. Saya sangat percaya dengan firman Tuhan yang berkata bahwa doa orang benar sangat besar kuasanya itu saya sudah alami,

Setelah melewati isolasi selama 3 minggu, saya dan suami juga Jovan sudah dinyatakan sembuh. Kami benar-benar bersyukur merasakan keajaiban Tuhan dalam hidup kami, kalau hari ini saya dan sekeluarga boleh sehat, sembuh itu karena kasih karunia Tuhan. Terpujilah nama Tuhan.