Quarter Life Crisis dan Pemilihan Kerja Anak Muda Kristen

12 May, 2019

Menurut riset oleh Price Waterhouse Cooper pada tahun 2017, persentase pekerja secara global akan didominasi oleh generasi milenial sebanyak 50% di tahun 2020 mendatang. Benar saja, belum tahun 2020 berbagai perusahaan kini dipenuhi milenial. Meski demikian ada tantangan tersendiri bagi perusahaan yang mempekerjakan milenial. Beberapa milenial kerap mengalami krisis dalam hidupnya yang disebut Quarter Life Crisis (QLC) atau krisis seperempat abad yang dialami oleh anak muda dengan usia 20-30 tahun. Krisis ini ditandai dengan berbagai kecemasan akan pilihan hidup dan kebimbangan akan berbagai hal termasuk urusan pekerjaan.

Lulus kuliah, kerja dan menikah. Idealnya begitu, tetapi kenyataanya tak selalu begitu. Ada yang tak bisa kuliah juga. Ada yang setelah lulus kuliah tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Ada yang dapat pekerjaan tapi tak mencintai pekerjaanya. Ada yang begitu mencintai pekerjaannya namun tak mendapat restu orangtua, akhirnya pindah kerja. Ada yang sukses dalam karir, namun tak kunjung menikah. Ada yang cepat menikah, namun tak sukses berkarir. Ada yang berorientasi pada relasi (relationship orientation), ada juga yang fokus pada karir (career orientation) atau bisa menyeimbangkan keduanya. Relationship Orientation vs Career Orientation lebih sering berseberangan, tidak semua dapat menyeimbangkan keduanya. Di fase-fase tersebut anak muda kristen harus menang sehingga bisa memilih pekerjaan yang tepat sesuai kehendak Tuhan. Mengapa?

Karena pekerjaan yang tepat akan membawa kita pada berkat yang seharusnya kita terima dari Tuhan. Berkat yang dimaksud bukan hanya gaji, tetapi juga kemampuan untuk berkarya sesuai dengan talenta, relasi dan promosi kerja. Bagaimana caranya? Tidak ada solusi lain kecuali datang kepada Roh Kudus. Konsultan karir sekalipun tak bisa menentukan secara pasti karir yang tepat untuk kita. Hanya Roh Kudus yang paling mengetahui dengan pasti. So, datanglah, berdoalah dengan iman dan sikap hati yang benar sehingga kita dapat menemukannya.

Milikilah waktu sabat, waktu duduk diam dalam hadirat Allah. Jika Tuhan saja berhenti pada hari ketujuh (Kejadian 20:8), kita juga perlu untuk beristirahat dalam hadirat Allah. Pikirkan bukan saja bagaimana kamu dapat memiliki gaji tinggi atau berkarya lebih lagi, tetapi juga bagaimana Tuhan dapat dipermuliakan dalam pekerjaan tersebut. Bukankah terlalu banyak yang sukses bekerja namun tak sukses dalam hubungan dengan Tuhan? Jadi kamu memilih pekerjaan yang mana? Apapun itu, bekerjalah sebaik-baiknya demi kemuliaan nama Allah (Kolose 3:23).

GBI Jalan Jend Gatot Subroto