KEJARLAH KEBENARAN

08 Mar, 2017

“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.”
(Matius 5:6)
 
Kata “Blessed” (Yun. makarios) arti harafiahnya yang ‘diberkati’, ini lebih luhur dari kata ‘bahagia’. Yesus berkata “diberkatilah orang yang lapar dan haus akan kebenaran.” Yesus menghubungkan kata “rasa lapar” dan “haus” secara bersama-sama untuk menunjukkan kepada kita bahwa “kebenaran” itu sesuatu yang dibutuhkan seumur hidup, sebagaimana  air dan makanan, itulah kehidupan rohani kita bergantung kepada Kebenaran. Lapar dan haus bukan berarti sekedar kebutuhan untuk mengetahui kebenaran, lebih dari itu adalah sebuah kerinduan yang sungguh-sungguh untuk melakukannya!  
 
Tiga aspek Kebenaran yang membuat kerohanian kita tetap hidup dan diberkati Tuhan;

1.  
Kebenaran Rohani
Yaitu perintah dan tuntunan Tuhan melalui firman-Nya, pewahyuan dan pengalaman-pengalaman rohani, yang diterima secara spesifik untuk diri kita sendiri, caranya:
a.   Miliki Rasa Lapar dan Haus
Elisa begitu haus dan lapar akan pengurapan Tuhan, sehingga Ia menolak meninggalkan Elia sampai Ia menerima ‘jubah’ Elia. (2 Raj 2:1-14)
Kita harus hidup seperti Elisa yang terus berusaha dengan sungguh-sungguh mencari tahu apa yang menjadi kehendak Tuhan untuk hidupnya, sampai Tuhan menyatakan kehendak-Nya melalui pewahyuan / tuntunan-Nya.
b.   Miliki Kegigihan
Yakub begitu mengingini berkat dan penyertaan Tuhan sampai dia bergumul dengan malaikat Tuhan untuk mendapatkannya. (Kej 32:22-32)
Tuhan berjanji bagi yang lapar dan haus akan tuntunan-Nya akan menerimanya. Tetapi banyak orang  ketika mereka menghadapi  suatu  “tantangan” mereka  segera menghentikan usahanya itu tidak seperti Yakub yang gigih sampai bergumul untuk mendapatkan berkat Tuhan, demikianlah kita seharusnya memiliki sikap hati yang seperti itu.   
c.   Miliki Gairah
Kaleb di usia 85 tahun, ketika kebanyakan orang sudah memilih untuk ‘pensiun’, Kaleb justru berkata: “Berikan kepadaku gunung itu!”, dia memerangi Hebron dan menaklukkannya. (Yos 14:6-15)
Pada awal kita menjadi orang percaya, kita begitu bersemangat beribadah, memuji Tuhan, berdoa, melayani pekerjaan Tuhan dan seterusnya. Namun dengan berlalunya waktu sebagian orang mulai kehilangan kegairahan itu dan melihat semua itu sebagai sebuah rutinitas, tidak punya pengejaran kearah tingkat kedalaman rohani yang lebih tinggi. Kita harus seperti Kaleb, semakin tua, memiliki kedalaman rohani yang semakin tinggi.
 
2.   Kebenaran Moral
Ini bentuk kebenaran yang dipraktekkan oleh orang Kristen kepada orang lain. Kita tidak melakukan hal-hal yang immoral, ilegal, yang tidak etis menurut firman Tuhan.
Ketika Yusuf tinggal di Mesir. Ia berkali-kali digoda oleh isteri Potifar, namun ia tetap mempertahankan kebenaran moralnya. Dalam kehidupan sekarang inipun kita perlu terus menerus mengejar dan mempertahankan kebenaran moral di dalam hidup kita, agar kita menjadi orang yang di sebut “diberkati” di hadapan Tuhan.
 
3.   Kebenaran Sosial
Kebenaran sosial merupakan cara bagaimana menegakkan keadilan sosial berdasarkan standar firman Allah, seperti: menolong orang yang tertindas, memperjuangkan keadilan, melayani orang yang lemah dan membantu kaum fakir miskin. Tuhan telah memberikan kita kemampuan untuk menolong orang lain; yang dengan sengaja Tuhan tempatkan disekitar kita. Masalahnya apakah kita menyadarinya atau tidak.
 
Tuhan sudah menetapkan kita untuk menjadi pribadi yang berdampak dengan menerapkan kebenaran rohani, kebenaran moral dan kebenaran sosial dalam kehidupan sehari-hari. Ingat, Tuhan berjanji, orang yang hidup dalam kebenaran akan dipuaskan.
 
 
“Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus. Tuhan kita.”
2 Petrus 1:8

GBI Jalan Jend Gatot Subroto