PREACHING THE GOSPEL; THE PENTECOSTAL WAY

21 Oct, 2018

"Dan Injil Kerajaan ini   akan diberitakan di seluruh dunia   menjadi kesaksian bagi semua

bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya ."

Matius 24:14

"Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil,   karena Injil adalah kekuatan
Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi
juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan
memimpin kepada iman , seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman. "

Roma 1:16-17

Dunia kekristenan pada masa kini terbagi menjadi 3 keluarga besar yaitu: Dunia Roma
Katolik, Dunia Protestan, dan Dunia Ortodoks yang mencakup sepertiga jumlah manusia di
muka bumi. Sampai pada saat ini agama Kristen masih merupakan jumlah terbesar dari
semua agama yang ada. Dua kelompok dari Dunia kekristenan memiliki ciri yang sama
yaitu keutamaan pemberitaan Injil sebagai salah satu alasan keberadaan Gereja di muka
bumi ini. Mereka adalah Dunia Katolik dan Dunia Protestan. Bagi Dunia Katolik, semangat
misi adalah hal yang menyelamatkan gereja Katolik dari kemunduran atau bahkan
kepunahan yang mengancamnya paska reformasi di Eropa.
Semakin banyak negara-negara di Eropa berubah dari mayoritas Katolik menjadi memeluk
protestanisme yang dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia,
ekonomi, politik, dan militer, maka gereja Roma Katolik membentuk ordo-ordo misi
dengan tujuan memberitakan iman Katolik melampaui batas-batas benua Eropa menuju
Asia Selatan, Timur Jauh, Samudera Pasifik, bahkan ke DUNIA BARU. Hal itu menuai hasil
yang luar biasa. Benua Amerika Latin hari ini adalah 80 % penganut iman Katolik, sebagian
dari negara-negara di pantai timur Afrika, dan di Asia, Filipina, Timor Leste adalah negara-
negara dengan mayoritas penganut Katolik.
Di dunia Protestan meskipun terlambat hampir 2 abad, namun semangat misi yang lahir
dimulai dengan pelayaran William Carey ke India tahun 1799 telah merevolusi wajah dunia
sampai pada masa kini. Dunia Protestan bukanlah suatu blok yang masif (sangat besar) dan
monolit (bongkahan batu yang besar); di dalamnya terdapat banyak faksi dan golongan.
William Carey, Hudson Taylor, dan David Livingstone adalah contoh misi individual yang
lahir dari api kegerakan metodisme, meskipun William Carey sendiri tidak pernah secara
resmi memutuskan hubungan dengan gereja Anglikan tetapi ia hampir dapat dikatakan
100% melakukan pelayanan misi di India terlepas dari struktur gereja di Inggris. Di dalam
misi Protestan juga terdapat usaha-usaha penginjilan yang dilakukan oleh gereja-gereja di
negara-negara di Eropa. Usaha misi gereja reformed Belanda di Indonesia adalah contoh
utama kasus ini.

Semua hal diatas tidak dapat disangkal karena sangat berperan di dalam meletakkan dasar
penginjilan di benua Asia dan Afrika. Hal ini sangatlah berharga di mata Tuhan dan
generasi orang percaya pada saat inipun tidak dapat melupakan kontribusi para pelopor
Injil ini. Hal yang sangat jelas adalah usaha-usaha penterjemahan Alkitab ke dalam bahasa-
bahasa yang kemudian berkembang menjadi bahasa-bahasa utama yang di pakai di Asia.
Sebagai contoh bahasa Bengali, bahasa Urdu, bahasa Hindi di India, bahasa mandarin (The
Chinese Union Version) sangat berjasa membentuk bahasa mandarin modern, bahasa Korea,
bahasa Vietnam, dan bahasa Melayu.
Namun tidak dapat disangkal bahwa ledakan perkabaran Injil terjadi setelah benua Asia
dilanda kebangunan rohani. Kebangunan Rohani Azusa Street 1906 menjadi pemicu dari
beberapa kebangunan rohani setempat yang terjadi di Pyongyang (1907), India barat laut
(1910), Shandong (1917). Api pentakostalah yang akhirnya memberdayakan usaha
penginjilan yang kali ini bukan hanya dilakukan oleh satu atau dua orang penginjil yang
terpanggil saja tetapi seluruh gereja Tuhan diberdayakan untuk menjadi saksi-saksi
Kristus. Orang - orang Pentakosta memiliki suatu kacamata khusus di dalam melihat usaha
misi dan penginjilan. Mereka melihat penginjilan sebagai bukti nyata dan ekstensi
seseorang yang telah dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus. Dengan sederhana dapat
dikatakan bahwa seseorang yang mau menjadi saksi (menginjil) haruslah seorang yang
dipenuhi terlebih dahulu oleh kuasa Roh Kudus dan seorang yang dipenuhi oleh kuasa
Roh Kudus tidak mungkin tidak menjadi saksi Kristus.
ADA 2 ALASAN UTAMA SESEORANG DAPAT MENJADI SAKSI KRISTUS
1. Kepenuhan Roh Kudus
Kepenuhan Roh Kudus di dalam diri orang percaya akan terus menerus membawa
"kehadiran" Tuhan Yesus di dalam diri orang percaya.
Itulah sebabnya didalam khotbah-Nya terakhir pada malam sebelum Yesus ditangkap, Ia
memberikan penjelasan panjang lebar tentang peranan Roh Kudus bagi orang percaya.
Salah satunya adalah Ia akan menyertai mereka sampai kepada kesudahan zaman.
Dengan kata lain Roh Kudus membawa kehadiran Tuhan di dalam kehidupan para rasul-
Nya, bahkan mereka yang menjadi percaya kepada Yesus karena pemberitaan para
Rasul. Roh Kudus akan membuat mereka mampu "merasakan" kehadiran Tuhan Yesus.
Tanpa hal ini, di dalam kekristenan hanya tersisa ajaran Tuhan Yesus.
Meskipun tidak dapat disangkali bahwa ajaran Tuhan Yesus memang luar biasa tetapi
kekristenan akan menjadi tidak berbeda dengan agama atau filosofi yang ada dunia pada
saat itu. Murid-murid Plato pun masih menyimpan dan memelihara ajaran Plato, tetapi
mereka tidak dapat mengklaim bahwa mereka disertai oleh Plato senantiasa di dalam
menjalani seluruh kesulitan hidup.
Itulah sebabnya untuk menjadi saksi Kristus, orang harus terus menerus diperbaharui
pengalamannya dengan Kristus.
2. Kuasa Roh Kudus
Untuk menjadi saksi Kristus seseorang harus dipenuhi dengan Kuasa. Yesus menetapkan
kedua belas murid-Nya yang selalu bersama-sama dengan Dia untuk "menjadi Rasul-
Nya" kata Apostolos yang seringkali diterjemahkan sebagai "messenger atau Rasul"
sebenarnya mengacu kepada seorang duta besar Romawi yang diutus untuk mendirikan

sebuah koloni baru bagi Roma dengan disertai Legiun Romawi, korps pegawai negeri
Roma, meterai senat Romawi sebagai bukti otoritasnya.
Hal inilah yang menjadi titik penekanan istimewa kaum Pentakosta. Banyak terjadi
kesalahpahaman dengan pengertian bahwa kuasa Allah terletak pada Injil Yesus Kristus.
Mereka sering mengutip Roma 1:16. Tetapi jika kita melihat konteks ayat tersebut
dikatakan disana bahwa Injil adalah Kuasa Allah bagi mereka yang percaya. Dengan
kata lain bagi mereka yang belum percaya; Injil belum dapat menunjukkan kuasanya.
a. Pertama-tama yang harus dilihat adalah Injil (bahasa Yunani "ευαγγελιον" atau
"Euaggelion") memiliki arti kabar baik. Menurut etimologi kata "ευαγγελιον" dalam
bahasa Yunani seringkali menunjuk kepada kabar baik mengenai Raja sebagai
penguasa kota (Polis) dan hal-hal yang berkenaan dengan kehidupannya;
 Raja baru saja menang perang,
 Raja baru saja mendapatkan keturunan yang baru,
 Raja baru saja sembuh dari sakit.
Di dalam konteks itulah kita harus mengartikan kata kabar baik yaitu "Kabar Baik"
mengenai Yesus yang adalah Raja yang sedang datang bersama dengan kerajaan-Nya.
Bukan kabar baik menurut apa yang kita inginkan. Dengan melihat pengertian ini,
jelaslah kita mengerti bahwa tidak semua orang mengakui Yesus sebagai raja mereka.
b. Barulah kita dapat mengerti, Paulus mengajarkan bahwa pemberitaan Injil tidak
terlepas dari konteks peperangan rohani. Kerajaan kegelapan tidak akan rela
melepaskan orang-orang dari cengkramannya dengan begitu saja.
"Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup   juga, maka ia tertutup untuk mereka,
yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah
dibutakan oleh ilah   zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang
kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah." 2 Kor 4:3-4
Yesus mengajarkan, jika kita ingin menjarah perbendaharaan seorang kuat, kita harus
mengikat orang kuat itu terlebih dahulu baru kita dapat merampas segala miliknya.
(Mat 12:29; Mrk 3:27)
Itulah sebabnya sama seperti tugas dari Apologetika ialah untuk menyingkirkan keraguan
dan penolakan mental/intelektual seseorang sebelum pemberitaan Injil maka demonstrasi
kuasa Roh Kudus dengan tanda-tanda ajaib dengan mujizat menduduki peran yang sama
secara praktikal.
Apologetika bukanlah Injil. Demikian pula demonstrasi kuasa Roh Kudus bukanlah Injil itu
sepenuhnya. Kesembuhan fisik tidak dapat menyelamatkan seseorang dari dosa. Mujizat
tidak menyelamatkan seseorang dari dosa. Hanya Injillah yang dapat menyelamatkan
seseorang dari dosa. Namun, seringkali mujizat, kesembuhan, dan kuasa Roh Kudus
diperlukan sebagai pembuka jalan untuk mata hati orang atau komunitas dicelikkan untuk
mereka melihat Injil kemuliaan Allah. (AL)

 

GBI Jalan Jend Gatot Subroto