Phitecantropus Erectus Cranium

08 Aug, 2017

Di siang yang panas ini tim liputan mengunjungi Kota Ngawi. Ngawi adalah kota perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ngawi juga merupakan tempat ditemukannya manusia purba Phitecantropus Erectus Cranium.

Kota Ngawi memiliki slogan “Ngawi Ramah”. Sejak Kabupaten Ngawi dipimpin oleh Bupati Ir. Budi Sulistiyono motto Kabupaten Ngawi berubah dari asal “Ngawi Berjuang” menjadi “Ngawi Ramah”. Dengan adanya Motto ini diharapkan Kabupaten Ngawi dan seluruh lapisan masyrakatnya menjadi insan yang ramah dan bersahaja bagi setiap masyarakatnya dalam berinteraksi dan pergaulan sehari-hari. 

Kami pun mendatangi Benteng Van Den Bosch atau yang disebut juga Benteng Pendem. Benteng ini dibangun oleh Van Den Bosch, sebagai pertahanan bangsa Belanda untuk menangkal serangan gerilyawan Indonesia. Dibangun pada tahun 1845, benteng ini sengaja dibangun lebih rendah dari tanah sekitar, sehingga warga sekitar menyebutnya Benteng Pendem.

Di pinggir jalan banyak penjual yang menjajakan es degan. Asal usul penamaan Es Degan menurut masyarakat sekitar konon saat penjajahan Belanda, ketika orang Belanda mau makan kelapa, maka mereka menembak kelapa dari pohonnya dengan menggunakan senapan. Dalam bahasa Inggris the gun artinya senapan. Penduduk sekitar menyebutnya “de gan”. Maka lahirlah nama es degan yang adalah es kelapa dicampur dengan sirup atau air gula.

Beranjak dari Benteng Pendem, tim liputan pergi menuju ke Museum Trinil. Museum Trinil tempat ditemukannya manusia purba. Diresmikan pada 20 November 1991 oleh Gubernur Jawa Timur Soelarso. Di belakang Museum Trinil terdapat Sungai Bengawan Solo, tempat digalinya dan ditemukannya Phitecantropus Erectus Cranium. Sungai Bengawan Solo melintasi 3 wilayah yakni: Ngancar, Kawu, Gemarang. Nama Trinil berarti Tri artinya tiga wilayah, Nil artinya sungai. 

 

TeamPortal (MF)

 

 

 

GBI Jalan Jend Gatot Subroto