PENTECOST: HIS-STORY CONTINUES

15 Jul, 2018

Lebih dari 2.000 tahun yang lalu, Roh TUHAN turun dan hinggap dalam rupa lidah-lidah api yang menyala ke atas 120 orang yang bertekun sehati dalam doa bersama-sama (Kisah Para Rasul 1:14) dalam kamar di loteng atas, karena pemimpin yang mereka harapkan menegakkan kembali Kerajaan atas Israel kenyataannya telah ditangkap, dihukum mati namun kemudian bangkit kembali dan sebelum terangkat kembali ke tempat kediaman-Nya, Kemudian Dia berpesan agar mereka tidak meninggalkan kota Yerusalem sampai mereka menerima dari Bapa, apa yang telah dijanjikan-Nya.
Tepat di hari yang kesepuluh dalam penantian mereka (50 hari setelah kebangkitan Yesus), di saat kota Yerusalem dipenuhi dengan kira-kira 250.000 orang dari berbagai suku bangsa yang datang untuk berziarah ke Bait Allah dalam rangka merayakan hari raya orang Yahudi terjadilah peristiwa yang sangat luar biasa itu.
"Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah." Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: "Apakah artinya ini?" Tetapi orang lain menyindir: "Mereka sedang mabuk oleh anggur manis." (Kisah Para Rasul 2:1-13)
Apakah peristiwa ini hanya berhenti sampai disini? Apakah peristiwa pentakosta hanya merupakan bagian dari sejarah gereja mula-mula yang tidak mungkin terulang kembali di masa gereja modern sekarang ini?
Dalam khotbahnya, Rasul Petrus mengutip Yoel 2:28-32, "...Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia..." kata ‘akan terjadi' dalam bahasa Inggris ‘shall come to pass' dan Ibrani ‘hayah' yang salah satu artinya adalah continue (berlangsung terus / terus berlanjut).
Dalam Kisah Para Rasul 2:17, tabib Lukas penulis Kisah Para Rasul dengan inspirasi Roh Kudus menambahkan kalimat "pada hari-hari terakhir" (Yunani: Eskatos) pada kalimat "akan terjadi" dari Yoel 2:28. Albert Barnes notes on the bible memberikan catatan bahwa ungkapan ‘hari-hari terakhir' ini bagi orang Yahudi melambangkan masa depan secara umum, namun di mana kedatangan Mesias merupakan sebuah peristiwa penting dari masa depan. Sedangkan bagi para penulis Perjanjian Baru, ungkapan ini dipahami merujuk kepada zaman Injil, dan peristiwa penting dari masa depan adalah kedatangan Mesias (baca: Tuhan Yesus) yang kedua kali.
Peristiwa pencurahan Roh Kudus dalam Kisah Para Rasul 2:1-13 haruslah dimaknai sebagai bagian dari penggenapan janji Tuhan akan pencurahan Roh Kudus secara luar biasa di hari-hari terakhir sebelum kedatangan Mesias (menurut orang Yahudi), kedatangan Tuhan Yesus kali yang kedua (menurut gereja), di mana pada waktu itu terjadi tepat 50 hari setelah kebangkitan Tuhan Yesus dan berdekatan dengan hari raya Shavuot orang Yahudi. Penggenapan janji pencurahan Roh Kudus secara luar biasa tentu tidaklah terjadi hanya satu kali pada masa itu saja, sehingga peristiwa pencurahan Roh Kudus pada hari kelima puluh yang kemudian disebut dengan hari Pentakosta bukanlah sebagai sejarah (peristiwa sekali untuk selamanya), melainkan sebagai sebuah awal penggenapan janji TUHAN.
Namun demikian, tidak semua peristiwa bisa disamakan sebagai "peristiwa Pentakosta" seperti dalam Kisah Para Rasul. Jika di sebuah gereja lokal atau dalam sebuah KKR jemaat mengalami baptisan Roh Kudus dan karunia-karunia Roh Kudus bekerja, itu merupakan lawatan Roh Kudus, namun tidak dapat disamakan dengan peristiwa Pentakosta. Jika kita menyimak kitab Kisah Para Rasul secara keseluruhan, kita akan mendapati bahwa ada beberapa ciri khusus dari peristiwa Pentakosta:
1. Terjadi Secara Terang-terangan dan Disaksikan oleh Banyak Orang
Pencurahan Roh Kudus dalam Kisah Para Rasul 2:1-13 tidak terjadi secara diam-diam, melainkan secara terang-terangan dan ditengah keramaian orang-orang dengan bunyi seperti tiupan angin yang keras, belum lagi saat 120 murid berkata-kata dalam bahasa roh. Itulah sebabnya ribuan orang berkumpul (jika yang mendengar dan bertobat saja 3000 orang, pasti pendengar pada waktu itu lebih dari 3000 orang) dan menyaksikan peristiwa ‘heboh' yang sedang terjadi.
"Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri." (Kisah Para Rasul 2:6).
2. Dampaknya Bagi Bangsa-Bangsa
Sebab kerumunan orang banyak yang menyaksikan peristiwa itu datang dari berbagai bangsa, bukan hanya sekedar penduduk kota Yerusalem.
"Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit." (Kisah Para Rasul 2:5)
"Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah." (Kisah Para Rasul 2:8-11)
3. Terjadi Penuaian Jiwa-jiwa Yang Luar Biasa
Dampak dari peristiwa pencurahan Roh Kudus yang dahsyat itu adalah penuaian jiwa yang luar biasa yang dimulai dengan 3.000 orang, setelah itu tiap-tiap hari TUHAN menambahkan jiwa-jiwa yang bertobat sampai bangsa-bangsa lain pun datang.
"Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa." (Kisah Para Rasul 2:41)
"Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan." (Kisah Para Rasul 2:47)

Sejak peristiwa di kamar loteng lebih dari 2.000 tahun yang lalu, sejarah Gereja mencatat bahwa ada satu peristiwa yang memiliki ciri seperti ketiga ciri yang terjadi pada peristiwa pentakosta, yakni pencurahan Roh Kudus di Azusa Street.
Kegerakan Pentakosta yang terkenal dengan Azusa Street Revival itu di mulai di rumah Richard dan Ruth Asbery, 214 Bonnie Brae Street, pada tanggal 9 April 1906 ketika Edward Lee dipenuhi Roh Kudus setelah didoakan oleh William J. Seymour, kemudian diikuti enam orang lain yang juga mulai berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru termasuk Jenny Moore, yang di kemudian hari menjadi isteri William J. Seymour.
Berita pencurahan Roh Kudus cepat tersebar sehingga orang-orang berdatangan dari mana-mana sehingga sudah tidak ada tempat lagi untuk mendekati rumah tersebut oleh karena begitu banyaknya orang yang datang, sampai fondasi rumah tersebut ambruk tetapi tidak ada seorangpun yang cedera. Mereka terus berdoa dan banyak orang-orang yang menerima baptisan Roh Kudus walau sesungguhnya mereka datang hanya untuk melihat apa yang sedang terjadi, juga banyak yang disembuhkan dari berbagai penyakit, dan banyak lagi dari orang-orang yang datang, bertobat menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dengan begitu cepat rumah di 214 Bonnie Brae Street tersebut tidak dapat lagi menampung orang-orang yang datang ke tempat itu. Kemudian mereka berpindah di sebuah gedung tua di 312 Azusa Street. Selama tiga tahun mereka mengadakan ibadah tiga kali sehari setiap hari yang dimulai dari pagi hingga sampai malam hari. Dan sampai sekarang, kegerakan Roh Kudus ini terus terjadi dan tidak lagi hanya menjadi bagian dari Azusa Street, tetapi menjalar ke seluruh dunia.
Untuk mempermudah jika kita memberikan urutan angka berdasarkan urutan tahun peristiwa yang terjadi, maka kita bisa mengatakan bahwa Pentakosta dalam Kisah Para Rasul 2:1-13 sebagai PENTAKOSTA PERTAMA, dan Peristiwa Pencurahan Roh Kudus di Azusa Street sebagai PENTAKOSTA KEDUA. Ini sekedar istilah untuk memudahkan kita saat berbicara tentang Pencurahan Roh Kudus mana yang dimaksudkan. Mengingat janji TUHAN akan pencurahan Roh Kudus secara dahsyat masih terus terjadi sampai kedatangan Tuhan Yesus kali yang kedua, maka Peristiwa Pencurahan Roh Kudus secara dahsyat yang terjadi dan memiliki 3 (tiga) ciri di atas, setelah peristiwa Azusa Street dapat dikatakan sebagai PENTAKOSTA KETIGA!
Sejak Azusa Street 1906, belum ada lagi peristiwa pencurahan Roh Kudus dengan ketiga ciri seperti yang dicatat dalam Kisah Para Rasul, namun yang luar biasa, pada tahun 1909-1910 William. J. Seymour pernah bernubuat bahwa 100 tahun kemudian Tuhan akan mencurahkan Roh-Nya berlipat kali ganda, tahun-tahun yang dimaksud adalah tahun-tahun yang kita lalui saat ini. Nubuatan yang sama datang dari seorang rasul iman Smith Wigglesworth yang dipakai Tuhan secara luar bisa dengan tanda-tanda yang heran dan ajaib. Dalam pelayanannya, Tuhan telah memakai hidupnya untuk membangkitkan 26 orang mati. Ia menyampaikan pesan Tuhan bahwa 110 tahun setelah kebangunan rohani di Azusa Street, Tuhan akan melanda bangsa-bangsa dalam Kuasa-Nya, sehingga terjadi penuaian jiwa-jiwa.
Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo dengan tegas dan berulang-ulang menyampaikan pesan TUHAN yang kuat bahwa, PENTAKOSTA KETIGA terjadi di Indonesia, tepatnya dimulai dari SICC (Sentul International Convention Center). Dan bukan sebuah kebetulan kalau pada tanggal 17-20 Juli 2018 akan dilaksanakan Empowered21 Asia - Global, dimana bangsa-bangsa akan datang dan menerima pencurahan Roh Kudus yang dahsyat. Sangat tepat dengan ketiga ciri seperti yang telah dibahas diatas. Saat ini kita sedang berada di era PENTAKOSTA KETIGA, persiapkan diri kita untuk menjadi bagian dalam kegerakan TUHAN ini. Jangan ragu, percaya saja! Amin. (DL)

GBI Jalan Jend Gatot Subroto