PEMULIHAN HATI BAPA

18 Oct, 2021

"Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia,
dan Aku ini mengasihi engkau,
maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu,
dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu."
Yesaya 43:4

Perkenalkan saya Ragil, lahir sebagai anak bungsu dari 8 bersaudara yaitu 5 pria dan 3 wanita. Kebanyakan anak paling bungsu cenderung egois, juga manja. Saya lahir di tengah keluarga yang kondisi ekonominya 4S yaitu sangat, sangat, susah sekali. Sedemikian rupa susahnya sampai kedua orang tua saya pernah berencana menjual saya kepada sepasang suami istri yang sulit mendapatkan keturunan.
Mereka berharap dengan cara itu kehidupan saya kelak akan jauh lebih baik. Namun kakak saya melarang, tidak setuju. Hal itu baru saya ketahui dan diceritakan setelah saya bertobat.
Pekerjaan papa sebagai kuli bangunan yang pendapatannya tidak menentu, menjadikan kondisi ekonomi keluarga susah sekali. Ditambah lagi dengan kebiasaan buruk papa yang suka berjudi, dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan. Pekerjaan kasar dan suka berjudi membuatnya menjadi seorang yang bertemperamen galak dan kasar.
Seiring berjalannya waktu, saya pun tumbuh besar. Dari sejak masih bayi neneklah yang merawat dan mengasuh saya sampai duduk di bangku SMP. Nenek itu sosok orang yang penyayang, sabar, berbeda dengan mama, papa.

Kebetulan nenek tinggal serumah dan kebetulan pula nenek berjualan jamu dekat dengan sekolah saya, yang dibantu oleh mama. Begitu pun dengan biaya sekolah, nenek juga yang membiayai. Karena itu saya lebih dekat sama nenek.
Dari kecil saya sudah kehilangan figur sosok seorang bapak. Yang saya lihat papa saya galak, kasar, didikannya keras. Kami anak-anaknya tidak boleh punya mainan. Suatu kali saya pernah punya layangan, dirobek. Punya kelereng dibuang, punya bola dibelah jadi 2. Pokoknya semua harus nurut apa kata papa.
Pernah saya dan kakak berantem, namanya juga anak kecil, kakak-adik pasti pernah berantem. Kalau sampai diketahui papa, bukan dilerai melainkan malah diadu. Meskipun sudah minta ampun, tetap saja dapat hukuman, seperti diikat di pohon mangga yang semutnya banyak. Begitulah gambaran sosok papa yang saya kenal.
Karakter papa terbentuk didasari dari latar belakang hidupnya yang keras. Umur 12 tahun papa sudah merantau ke Jakarta bersama kakaknya, yang mempunyai disiplin hidup yang kuat. Apa yang dirasakan dan dialami semasa kecil, hal itu juga diberlakukan kepada anak-anaknya. Supaya dengan kondisi itu dia merasa kuat; baik secara fisik dan mental.

Sampai pada akhirnya terjadilah satu kejadian yang tidak pernah saya lupakan seumur hidup saya. Yang membekas, pahit dan membuat saya dendam sama papa. Kejadiannya ketika saya kelas 4 SD. Biasanya saya diajar sama kakak perempuan yang no 4. Kebetulan suatu hari kakak saya harus lembur di tempat kerjanya, mau tidak mau saya harus diajari oleh papa. Selama ini saya tidak pernah diajar oleh beliau, karena tahu bagaimana karakternya, keras dan galak.
Saya sudah punya gambaran papa galak, jadi saya sudah takut duluan. Waktu papa ngajari, sama sekali tidak masuk ke kepala, pada akhirnya papa marah-marah dan segala perkataan kebon binatang keluar dari mulutnya.
Tanpa diduga papa pergi ke dapur, dia mengambil bak lalu mengisinya dengan air. Kemudian bak tersebut dibawa ke depan, tempat di mana saya belajar. Awalnya saya bingung ngapain papa malam-malam begini bawa bak isi air? Saya pikir papa mau mencuci.
Ternyata papa kesal karena saya diajar tidak bisa-bisa. Dia marah, lalu saya pun nangis. Tiba-tiba papa menggendong saya, saya pikir saya mau dipeluk supaya tidak nangis lagi. Namun ternyata begitu dipeluk, dia langsung membalikan posisi tubuh saya, kaki di atas dan kepala di bawah, saya dicelupin di bak yang berisi penuh air. Saya merasakan sesak, apalagi dengan posisi dibalik. Dalam hati saya berkata "mati nih aku" hidung saya sudah terasa sakit, untunglah nenek segera datang menolong. Dari situlah mulai tumbuh akar pahit terhadap papa.

Lalu saat saya kelas 6 SD. Saya diajarin sama papa lagi. Saya sudah takut duluan, sehingga tidak bisa menjawab pertanyaan yang disodorkan. Akhirnya papa pergi ke dapur, lalu keluar sambil menenteng minyak tanah ke teras depan, sambil menggerutu marah-marah. Lalu papa masuk lagi ke dalam mengambil semua buku pelajaran saya di lemari, dan di depan mata saya, semua dibakar. Mama sudah mencegah, namun tidak berhasil, mama tidak bisa apa-apa karena takut kepada papa. Sekali lagi neneklah yang menengahi.

Dua kejadian di atas menambah kepahitan dan dendam saya kepada papa. Ditambah lagi beberapa kejadian lainnya, bagaimana dengan mata kepala sendiri saya melihat papa menyakiti mama. Juga banyak kejadian-kejadian kecil yang membuat kepahitan dalam hati saya makin hari semakin menumpuk.
Duduk di bangku SMA, saya mulai bergaul dengan teman-teman yang buruk. Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik. Karena di rumah saya merasa tertolak, saya jadi tidak betah di rumah, sering pergi pagi pulang malam.
Dalam kondisi waktu itu saya juga sering keluar malam hari dan pulang pagi, pagi tidur sebentar lalu pergi sekolah. Di sekolah saya juga sudah tidak benar. Ketika saya ceritakan kondisi yang saya alami kepada teman-teman yang nakal-nakal ini, akhirnya muncullah statement: "bunuh aja bokap". Mungkin cuma bercanda, tapi saya anggap serius. Saya pun langsung memikir: "Wah iya ya biar dendam sama papa terbalas." Dari situlah saya berencana membunuh papa dengan 2 alat. Pertama saya siapkan racun dan yang kedua belati.
Saya menyiapkan itu karena setiap hari kalau bangun pagi, papa pasti minta dibuatkan kopi sama mama. Jadi saya berpikir yang simple saja. Saya campur racun di kopinya pas dia minum, selesai! Atau waktu papa tidur tinggal saya tusuk pakai belati. Semuanya sudah saya siapkan, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menghabisi papa.

Namun entah mengapa, kejadian itu seakan-akan waktunya tidak pernah ada. Kalau papa bangun pagi, saya yang kesiangan bangun, jadi papa sudah selesai minum kopi. Kalau mau tusuk papa waktu papa tidur, sayanya yang selalu tidur duluan dan bangunnya siang. Selalu begitu, sehingga tidak ada kesempatan. Sampai pada akhirnya saya sudah mulai menyerah sama kehidupan.

Saya tidak punya masa depan, lulus SMA saya tidak punya cita-cita. Bingung mau kemana? Cita-cita saya ingin jadi pilot, polisi, dokter semuanya terhalang dengan syarat fisik dan jurusan. Teman-teman di sekolah selesai SMA masing-masing sudah punya rencana akan kuliah kemana. Tetapi hidup yang sedang saya jalani adalah hidup yang rusak, ditolak sama papa, tidak punya cita-cita, tidak punya masa depan. Hidup saya hampa. Sampai pada akhirnya ada seorang teman di sekolah yang tahu jelas bagaimana keadaan saya. Dia mengajak saya pergi ke gereja, diajak ibadah Youth. Saya sendiri dari latar belakang yang berbeda.
Berawal mula karena saya bisa main musik gitar, jadilah diiming-iminginya dengan cara gerejanya keren, ada alat musik lengkap, ada lighting, nyanyinya bisa lompat-lompat. Pikiran saya sudah beda, "Asik nich bisa joget-joget."
Akhirnya saya mau juga diajak ke gereja. Pertama kali ikut ibadah, saya sama sekali tidak mengerti cara ibadahnya, karena cara ibadah saya berbeda. Pertama yang saya rasakan musiknya enak, karena saya memang suka musik apalagi pas praise, worship.
Saat lagi penyembahan mereka angkat tangan, saya diam saja, buka mata. Tetapi kok lama-lama tanpa saya sadari saya menangis. Air mata saya menetes... saya merasakan ada ketenangan, damai yang belum pernah saya rasakan, rasa nyaman. Saya tidak merasakan kalang kabut, stress. Saya coba hapus air mata, malu kalau ketahuan teman bahwa saya menangis apalagi hanya karena dengarin lagu. Biasa juga berantem sama papa tidak pernah menangis. Tetapi air mata itu tidak berhenti mengalir, terus menetes. Hari itu hati saya merasakan damai sekali.

Karena itulah, minggu depannya saya tanya lagi ke teman "mau ikut lagi dong". 1 minggu, 2, 3 minggu ibadah, lama-lama akhirnya saya bisa mengangkat tangan memuji Tuhan.
Sampai pada suatu hari, pada satu titik ada salah satu pembicara, hamba Tuhan itu menantang: "Siapa yang mau menyerahkan hidupnya sungguh-sungguh untuk Tuhan". Saat itu sedang berbicara soal pemulihan hati. Karena kita tahu Tuhan punya rancangan yang baik atas hidup kita. Saat itu juga saya menyerah, waktu saya angkat tangan dan maju ke depan... saya menangis sejadi-jadinya. "Aku menyerah Tuhan." Sebelum itu saya sudah punya niat untuk bunuh diri, karena hidup saya sudah rusak, ditolak di rumah, tidak punya masa depan. Buat apa hidup? Dalam kondisi kalut, bingung harus bagaimana, pada akhirnya hari itu bulan Juni 2006, saya bertobat. Saya angkat tangan, maju ke depan, didoakan.
Tetapi proses memang tetap berjalan. Saya berusaha untuk tidak marah lagi, tidak benci lagi. Tapi tidak bisa. Makanya racun dan belati itu tetap saya pegang selama setahun.

Sampai pada akhirnya tahun 2007 saya menyerahkan diri untuk dibaptis. Saya berkata kepada Tuhan: "Saya tidak punya masa depan, Tuhan tahulah cita-citaku kan sudah berantakan semua, keluarga juga sudah retak." Setelah dibaptis bertobat harus ada buah pertobatan, ada komitmen untuk berubah. Tetapi sampai di titik saya bertobat, saya masih menyimpan 2 benda tadi, yaitu racun dan belati.

Hingga suatu hari sehabis ibadah di gereja saya pulang ke rumah, pas di rumah ketemu papa yang lagi nyapu. Saya panggil kedua orang tua saya. Di situ saya minta maaf sama papa, saya ceritakan semuanya segala kepahitan, rasa benci bahkan ingin membunuh. Ekspresi papa saat itu biasa saja. Lalu saya ambil 2 benda, saya taruh di atas meja. Papa saya kaget melihat bubuk yang saya sodorkan, dia pikir itu narkoba. "Untuk apa kamu simpen?" Saya jawab: "Ini racun Pa, untuk bunuh Papa." Mukanya berubah, mukanya marah tapi tidak bisa marah, tapi beliau nangis seperti nahan kesal. Selama 3 tahun dua benda itu saya simpan. Di situ saya yang baru mengalami kasih mula-mula akhirnya memeluk papa. Dalam hati terserahlah mau diterima atau tidak, yang penting saya sudah lega.
Rekonsiliasi terjadi hari itu. Setelah itu hubungan saya dengan papa jadi baik. Dari semua anaknya yang bisa ngobrol panjang lebar sampai tertawa-tawa adalah saya dan kakak no. 1.
Tidak lama setelah itu papa pun bertobat dan dipulihkan, papa belajar introspeksi diri. Meskipun dalam prosesnya ada kesalahan-kesalahan yang dilakukan, tapi dalam proses itu papa berusaha untuk menjadi lebih baik lagi.

Dulu saya tidak pernah mendoakan papa, namun setelah saya bertobat saya belajar untuk mendoakan papa. Puji Tuhan, setelah itu papa bertobat. Bahkan sampai almarhum papa dalam kondisi kritis pun saya masih mendoakan papa.
Dan yang Tuhan buat dalam hidup saya adalah kembalinya papa dalam hidup saya menjadi satu kebanggaan. Yang papa pernah cerita, karena setelah saya bertobat, sebagai anak bungsu yang egois, hidup saya berubah. Sampai papa saya bilang: "Ya ampun itu anak bisa berubah gitu ya."

Waktu saya sudah bekerja sering kali pulang kantor saya bawa makanan dan juga menolong papa dan mama. Hal- hal yang "simple" itu menjadi sesuatu yang berbeda dalam pandangan mereka. Perhatian terhadap orang tua, lebih sering ngobrol membangun hubungan saya dan papa semakin erat. Kalau bukan karena Tuhan yang mengubahkan tidak mungkin hidup saya bisa berubah.

Bersyukur waktu hubungan saya dan papa dipulihkan, semua yang hilang dalam hidup saya Tuhan kembalikan. Saya punya masa depan, punya keluarga kecil, punya rumah, punya pelayanan, dan jadi berkat buat banyak orang. Gereja yang awal saya datangi dulu, menjadi rumah pelayanan saya sampai hari ini. Sungguh Tuhan Yesus itu baik, Dia Bapa yang baik.

 

GBI Jalan Jend Gatot Subroto