MUJIZAT ITU SANGAT DEKAT

08 Jun, 2020

Shalom,
Perkenalkan nama saya Fifin, saya berjemaat di Rayon 3 Tangerang. Berawal pada tanggal 17 Maret 2020, pada tengah malam badan saya tiba-tiba menggigil kedinginan. Saat itu saya hanya berpikir; mungkin karena pengaruh cuaca yang saat itu sedang hujan. Keesokan harinya saya mulai demam, mual, seluruh badan seperti ditusuk jarum dan kepala ini sakit sekali. Malamnya dengan ditemani oleh Benjamin suami saya, kami pergi ke dokter. Kata dokter tersebut, saya mengalami radang.

Hari Kamis tanggal 19 Maret 2020, rasa mual saya semakin menjadi-jadi. Akhirnya saya cek darah dan malam harinya saya kembali ke dokter, kali ini dokter mengatakan kalau hasil pemeriksaan mengarah ke DBD. Dokter pun meminta saya untuk kembali kontrol.

Namun esok harinya demam saya hilang, begitupun sakit kepala sudah reda, badan yang semula sakit-sakit juga mulai hilang, tetapi tenggorokan saya terasa tidak enak. Kejadian ini terus berulang kali terjadi, sakitnya hilang dan timbul kembali. Hingga pada suatu hari saya mengalami mual yang sangat hebat.

Akhirnya ditemani suami saya pergi berobat ke dokter spesialis, yang baru saya ketahui ternyata beliau juga dokter yang menangani COVID-19. Dokter mengatakan kalau gejala yang saya alami mengarah kepada COVID-19. Pada saat itu saya diminta untuk menjalani pemeriksaan CT Scan dan Thorax. Namun suami saya berpikir masa hanya tidak bisa makan karena mual, batuknya pun sudah berkurang harus menjalani pemeriksaan seperti itu? Sehingga saya hanya cek darah saja dan mengambil kesimpulan dokternya tidak tepat.

Pada keesokan harinya saya muntah-muntah hebat, saya masih berpikir bahwa obat yang saya minum terlalu keras dosisnya. Saya dibawa ke IGD, di sana saya langsung foto rontgen dan dari hasil rontgen sudah dapat diketahui kalau saya Pneumonia. Namun karena saat itu IGD sedang penuh, jadi saya cuma disuntik untuk mengobati rasa mual, lalu disarankan untuk pulang. Dokter tidak memberitahu kalau saya terpapar.

Tanggal 29 Maret 2020, kondisi saya sudah lemas sekali. Hari itu kembali saya dibawa ke IGD. Saya langsung menjalani serangkaian pemeriksaan baik itu CT Scan, Thorax dan cek darah lagi. Saya agak bingung karena waktu menunggu di IGD, tempat tidur saya dipindah ke bagian ujung yang terpisah sendirian. Tidak lama kemudian dokter jaga masuk dan memperlihatkan hasil rekaman medis saya, yaitu pada bagian paru-paru kiri dan kanan sudah terdapat flex putih-putih. Jadi hasilnya adalah saya suspect COVID-19.

Mendengar perkataan dokter bukan main kagetnya, saya benar-benar shock, shock sekali. Tidak pernah terpikirkan sampai kearah COVID-19, tetapi Tuhan izinkan semua ini terjadi pada diri saya.

Dokter tidak bisa memberikan referensi untuk dirawat di rumah sakit, karena kondisi pada saat itu rumah sakit dalam keadaan penuh. Bahkan ada pasien yang sudah 5 hari menunggu untuk mendapatkan kamar isolasi sampai hari ini juga belum dapat kamar. Tetapi suami saya minta apapun yang terjadi, biar istri saya tunggu di ruang IGD, yang penting tidak pulang ke rumah.

Saat itu saya hanya bisa berdoa "kalau boleh saya minta dapat kamar dong Tuhan". Terus terang malam itu saya benar-benar takut sekali. Rasa kuatir dan roh intimidasi itu kencang sekali. Tiba-tiba Ibu Kristina, Ibu Gembala saya mengirimkan pesan Whatsapp; menanyakan keadaan saya. Akhirnya Ibu Kristina berdoa melalui telepon, di sana saya merasakan seperti ada api yang membakar kuat sekali. Setelah itu roh intimidasi, ketakutan sudah hilang dan pada malam itu saya bisa merasakan ketenangan.

Saya kuatir dan tertekan, karena selama ini saya mendengar bagaimana cara kerja virus ini cepat sekali dan Tuhan izinkan saya mengalaminya. Virus ini menghabiskan daya tahan tubuh saya, apalagi nafsu makan saya hilang; tidak bisa makan otomatis mengakibatkan imunitas tubuh saya melemah.

Selain itu saya memiliki riwayat sakit Aritmia yaitu detak jantung yang tidak normal dan cepat sekali, dampaknya bisa mengakibatkan pembengkakan pada jantung. Seharusnya pada tanggal 21 Maret 2020 saya harusnya menjalani terapi Ablasi (salah satu prosedur penangganan yang dilakukan untuk memperbaiki irama jantung yang tidak teratur} jantung, tetapi tidak jadi. Jika sampai kambuh saya bisa langsung drop.

Puji Tuhan, Tuhan Yesus baik, esok harinya saya langsung mendapatkan kamar isolasi, satu kamar diisi oleh 3 orang pasien. Setelah saya masuk kamar isolasi, saya seperti masuk ke sebuah planet yang baru, benar-benar semua petugas medis memakai pakaian seperti astronot, kita tidak bisa melihat wajah mereka. Di sini Tuhan izinkan saya berinteraksi dengan mereka, menyaksikan pengabdian mereka yang luar biasa.

Selama saya berada di kamar isolasi, saya tidak pernah tahu kapan saya boleh pulang dan menunggu hasil test SWAB juga membutuhkan waktu yang lama, sehingga kadang-kadang rasa kekuatiran muncul kembali.

Tetapi saya bersyukur mempunyai bapak dan ibu Gembala yang baik, teman-teman pelayanan yang selalu memberikan dukungan doa kepada saya setiap harinya. Itu sangat menguatkan saya.

Sampai sudah 11 hari saya di kamar isolasi, tetapi belum ada kabar kapan saya bisa pulang. Sedangkan teman sekamar saya sudah akan pulang ke rumah. Saya terus berdoa sama Tuhan, kapan saya boleh pulang? kenapa saya masih belum bisa pulang ke rumah? Ada banyak pergumulan saya kepada Tuhan.

Hampir tengah malam, ibu Gembala saya WA kembali menanyakan keadaan saya saat itu. Saya kaget karena tumben beliau belum tidur. Ibu Gembala saya mengatakan bahwa ia ingat saya dan mendoakan saya. Setelah selesai didoakan dan diberikan dukungan maka akhirnya saya bisa tidur nyenyak. Biasanya saya minum obat penenang yang diberikan dokter, tetapi malam itu saya tidak minum obatnya.

Saya ingat besok adalah hari Jumat Agung, saya percaya akan terima mujizat karena Tuhan Yesus sudah menang atas maut. Keesokan harinya saya mengikuti ibadah online dan perjamuan kudus di kamar, kebetulan ada teh dan biscuit yang bisa saya pakai untuk perjamuan kudus. Pada saat saya doa dan minum perjamuan itu saya merasa ada satu aliran kesembuhan terjadi, seluruh tubuh saya terasa sehat dan saya merasa jauh lebih baik.

Sore harinya sekitar jam 15.30, suami saya juga masuk kamar isolasi bersama dengan saya, karena 2 orang pasien di kamar saya sudah pulang ke rumah. Suster mengatakan kalau saya sudah diperbolehkan pulang karena hasil test SWAB saya negatif tetapi saya harus menjalani isolasi mandiri di rumah.

Wah Puji Tuhan! saya hampir tidak bisa percaya, mengingat secara medis waktu masuk rumah sakit kondisi saya cukup parah. Hasil Thorax virusnya sudah cukup tinggi tetapi hasil test SWABnya bisa negatif, ini semua benar-benar mujizat Tuhan. Terlebih lagi sepanjang saya dirawat penyakit Aritmea saya juga tidak pernah kambuh.

Rencananya saya mau keluar rumah sakit bergandengan tangan bersama dengan suami, tetapi karena hasil test SWAB suami saya positif kami tidak dapat keluar dalam waktu yang bersamaan. Saya menjalani 2 kali test SWAB dan hasilnya negatif, saya dinyatakan sembuh dan sehat. Puji Tuhan demikian pula dengan suami saya, setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit , dia juga dinyatakan sembuh,

Tidak ada yang dapat dikatakan dengan kata-kata selain rasa syukur saya kepada Tuhan, semua kata-kata rasanya tidak akan cukup untuk mengungkapkan rasa syukur yang besar ini kepada Tuhan Yesus. Saya merasakan kasih Tuhan itu benar-benar dekat selama saya sakit dan dirawat, mujizat itu cepat datangnya tidak harus menunggu berhari-hari. Selama dirawat, apa yang saya inginkan, kok bisanya teman-teman langsung ada yang mengirimkannya. Tuhan menyediakan semuanya.

Semua yang saya rasakan dan semua yang saya alami, itu semua yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup saya. Hal ini membuktikan bahwa saya tidak sendirian, Tuhan selalu menyertai dengan kebaikan-Nya, kasih-Nya, mujizat-Nya. Saya bisa sembuh itu juga karena Tuhan Yesus. Juga dukungan dari Gembala, teman-teman sepelayanan, keluarga yang mengasihi saya. Saya tahu semuanya ini mendatangkan kebaikan dan saya bisa menang atas COVID-19 ini, karena Tuhan Yesus juga sudah menang atas maut. Amin.

 

GBI Jalan Jend Gatot Subroto