KUASA DOA YANG MENGUBAHKAN

16 Aug, 2021

"Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu."
Yesaya 43:4

Setiap orang ingin dilahirkan dalam keluarga yang bahagia, namun tidak ada seorang pun yang dapat memilih di mana ia dilahirkan. Setiap orang mempunyai jalan hidupnya sendiri, tetapi Tuhan mempunyai rancangan yang baik untuk anak-anak-Nya yang berharap kepada-Nya. Demikian yang dialami oleh Anggi, ibu dari 2 anak yang membagikan kisah hidupnya. Di mana penyertaan Tuhan yang luar biasa menjaga, menyertai dan mengubah hidupnya dengan kebaikan Tuhan. Sekalipun di masa sukar yang ia lalui.

Saat mama menikah dengan papa, papa merupakan suami kedua bagi mama dan mama adalah istri kedua buat papa. Mereka sebelumnya sudah pernah menikah. Dari pernikahan yang pertama papa sudah mempunyai 2 orang anak dan mama mempunyai 1 orang anak. Lalu dari pernikahan kedua ini lahirlah saya dan adik.

Keduanya bertemu ketika papa bekerja di sebuah hotel sebagai marketing. Di awal pernikahan semuanya baik-baik saja. Pekerjaan papa juga termasuk entertain tamu, selain itu sering diminta mencarikan wanita penghibur. Dari situlah papa mulai mengenal dunia malam.

Dengan alasan ingin membuka usaha, maka mama menjual rumah miliknya sebagai modal usaha buat papa. Pada akhirnya mama mengetahui usaha apa yang papa ingin jalani, yaitu prostitusi.

Saat saya lahir, papa sudah menggeluti pekerjaannya dan berhasil menjadi mucikari dengan banyak wanita penghibur yang dimilikinya. Kondisi rumah yang bercampur dengan lingkungan kerja, membuat saya jadi terbiasa dengan kehidupan dunia malam. Selain itu papa juga terlibat dalam banyak perjudian yang dikelolanya.

Persaingan bisnis membuat papa mencari peruntungan bantuan dunia hitam, seperti ke Gunung Kawi, ke Banten, dan ke orang pintar. Karena sejak awal uang yang didapat juga dari setan, maka tidak heran kehidupan keluarga kami juga berantakan. Dalam setahun saya bisa 2 kali pindah rumah, karena tempat usaha papa sering digrebek.

Kerasnya kehidupan dunia malam, lingkungan kerja yang buruk, ditambah lagi papa juga memakai obat-obatan terlarang sekaligus menjadi pengedar, membuat papa saya memiliki temperamen yang kasar. Kalau marah papa sering memukul mama.

Hati mama banyak tersakiti dengan perilaku papa yang buruk. Mama melihat bagaimana jahatnya papa dalam menjalankan usaha bisnisnya. Wanita yang akan dijual ke Jakarta, biasanya papa akan memakainya terlebih dulu.

Saya tumbuh sebagai anak gadis di tengah kehidupan dunia malam. Sedih rasanya, sehingga dengan berjalannya waktu, saya bertumbuh menjadi anak yang tertutup terhadap siapapun, apalagi papa sangat protektif. Saya tidak boleh kemana-mana. Namun tanpa diketahui oleh kedua orang tua, saat dijemput pulang sekolah saya mengalami pelecehan seksual dari salah seorang pegawai papa. Hal itulah yang membuat diri saya sempat mempunyai rasa sakit hati terhadap pria. Sehingga sikap yang saya lakukan adalah jika ada pria yang menyukai saya, saya hanya memberikan harapan palsu atau mempermainkannya. Terlebih sejak kecil saya tidak memiliki figur seorang bapak.

Saya tumbuh sebagai anak yang tidak pernah diperkenalkan kepada Tuhan. Puji Tuhan, sewaktu saya kelas 6 SD, ada tante yang memperkenalkan Tuhan kepada saya. Dari situlah saya mulai mengenal Tuhan Yesus, dan mulai berdoa. Berdoa buat papa saya tentunya. Saya rindu keluarga saya dipulihkan. Walaupun saya tinggal dilingkungan yang sangat mendukung untuk membuat saya menjadi anak yang tidak baik, namun dari kecil saya diajar untuk tidak boleh seperti mereka. Puji Tuhan, saya menjadi anak yang baik dan berprestasi. Lingkungan saya boleh tidak baik, tetapi saya boleh tumbuh menjadi anak yang takut akan Tuhan, itulah dasarnya di mana saya belajar akan kebenaran. Tuhanlah yang menjaga tiap langkah hidup saya.

Mulai sejak kelas 6 SD itu saya mulai berdoa, saya cuma ingin rumah ini jadi kudus. Selama 2 tahun saya terus berdoa, urapi ruko, dan dampaknya Tuhan mengubah semuanya. Papa saya menjadi salah satu mucikari dengan usaha prostitusi terbesar di Jakarta. Semua orang yang berkecimpung di dunia malam, pasti kenal siapa papa saya. Usaha prostitusinya besar sekali. Namun setelah 2 tahun saya berdoa, semua usahanya hancur. Papa bangkrut.

Usaha mesin perjudian miliknya mulai banyak dirazia, banyak tempat yang digrebek. Saat itu perjudian mulai dilarang dan papa merugi, apalagi papa juga ikutan judi dengan jumlah nominal yang gila-gilaan. Akhirnya perlahan-lahan harta yang papa miliki habis.

Ketika saya kelas 2 SMP, papa sudah tidak mampu membayar karyawan. Wanita penghibur papa banyak yang kabur, rukopun kosong. Kami benar-benar jatuh miskin. Aliran listrik di ruko diputus. Sempat 2 bulan kita tidak memakai kuota listrik, penerangan hanya memakai lampu tempel. Airpun kami beli, jaman itu masih banyak yang jualan air pakai gerobak.

Papa yang tidak memiliki keahlian lain, akhirnya tidak punya penghasilan sama sekali. Sejak dari kecil kebutuhan saya selalu dipenuhi, saya tidak pernah berkekurangan karena bisnis papa besar. Namun tiba-tiba papa jatuh turun dratis. Sebenarnya dalam hati saya sedih, tetapi kalau ingin papa saya bertobat, kenapa tidak rela mengalami yang seperti itu.

Saya pikir papa bertobat, ternyata tidak. Papa malah menjadi salah satu germo jalanan, mengkoordinir wanita malam di jalanan. Setelah itu kita tidak bisa lagi membayar sewa ruko, dan akhirnya kita pindah ke satu kamar kos-kosan kecil di daerah Gajah Mada. Saat itu sedihnya lagi kita sama sekali tidak mempunyai tabungan. Sebenarnya mama masih memiliki rumah kontrakan tetapi kondisinya rumah itu masih disewakan dan ditempati orang lain.

Tiba-tiba papa pergi meninggalkan saya, mama dan adik. Papa kembali ke istri pertamanya. Papa pergi begitu saja meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dan suami. Saat itu saya sudah duduk di bangku SMP dan adik saya masih di SD. Mama sejak menikah tidak pernah bekerja sama sekali, karena semua kebutuhannya dipenuhi oleh papa. Mau tidak mau mama harus putar otak untuk bisa tetap bertahan dengan 2 anak yang harus dihidupinya.

Akhirnya mama bekerja serabutan, segala macam usaha dijalaninya; yang penting dapur bisa tetap berasap dan kita bisa makan. Terkadang kami hanya makan sehari sekali. Namun saya melihat penyertaan Tuhan tidak berhenti sampai di sini, Tuhan tetap menyertai. Pada kenyataannya setiap hari kami bisa makan walaupun sangat sederhana sekali. Rasa cinta saya ke Tuhan semakin bertambah, walau keadaan saya saat itu sedang susah.

Akhirnya saya masuk ke SMA. Karena kesulitan dengan biayanya, maka saya pindah sekolah ke Malang. Di sana sekolah dibiayai, dan saya tinggal dengan salah seorang adik papa. Meskipun saya harus bersekolah sambil bekerja bantu-bantu di rumah saudara, tidak apa-apa saya jalani dengan dengan ucapan syukur, yang terpenting saya masih bisa terus sekolah.

Tiga tahun saya tinggal di Malang, penyertaan dan kekuatan Tuhan terus menyertai saya. Saya terus berdoa biar Tuhan yang bekerja, saya percaya Tuhan mempunyai rancangan yang baik untuk masa depan saya dan keluarga saya. Saya terus bertumbuh dalam Tuhan dan saya terus mencari Tuhan di manapun saya berada.

Sampai akhirnya saya kuliah di Jakarta, biaya kuliah ditanggung oleh kakak tiri yaitu anak mama yang pertama dari suami yang pertama. Tuhan terus menyertai hingga saya lulus dengan baik dan diterima bekerja sebagai PNS. Jika saya melihat perjalanan hidup saya, sungguh Tuhan Yesus itu luar biasa, saya selalu mendapatkan kekuatan, tuntunan Tuhan dan perkenanan Tuhan atas hidup saya. Walaupun latar belakang keluarga saya tidak baik, namun Tuhan membimbing, menyertai ketika saya mulai terus berdoa dan percaya akan kuasa doa yang besar kuasanya.

Tuhan juga memberikan saya pasangan hidup, seorang suami yang takut akan Tuhan, sama-sama melayani di gereja GBI Salemba. Sejak kami sama-sama kuliah, saya dan kekasih sama-sama aktif melayani di persekutuan doa dan juga di Gereja.

Setelah berpuluh tahun lamanya papa menghilang dari kehidupan saya, tiba-tiba setelah mengetahui kehidupan kami membaik, papa muncul kembali. Selama ini papa menghilang tanpa jejak, lalu kembali lagi cuma buat minta uang dan bilang bahwa hidupnya sekarang susah.

Jujur saja saat itu walaupun hidup saya sudah lahir baru, bahkan sudah melayani Tuhan, sudah bekerja dan pekerjaan saya juga cukup baik, namun di dalam hati kecil saya, masih ada rasa kesal. "Selama ini papa kemana? Di mana tanggung jawab papa sebagai orang tua? Puluhan tahun pergi begitu saja ninggalin, lalu tiba-tiba datang minta uang." Secara daging saya kesal, selama ini kehilangan sosok seorang bapak.

Puji Tuhannya saya mempunyai suami yang cinta Tuhan, pertemuan dengan papa adalah jalan untuk membawa papa pada satu keselamatan yang mengubah hidup papa untuk mengenal Tuhan Yesus. Mungkin juga ini cara Tuhan supaya papa diselamatkan, mengenal Tuhan Yesus. Bukankah selama ini saya berdoa untuk papa? Di sinilah kebesaran hati saya diuji, yaitu kasih dan mengampuni papa. Tuhan mengajarkan saya untuk belajar mengasihi papa, dengan apa pun kelakuan, keburukan papa yang saya terima dalam hidup saya. Belajar mengasihi papa tanpa batas dan mengampuni papa dengan hati yang tulus. Bukankah Tuhan Yesus adalah Kasih dan Tuhan Yesus Maha pengampun.

Akhirnya bersama dengan suami, saya setuju memberikan uang untuk penghidupan papa sehari-hari. Yang akan saya berikan seminggu sekali dan saya memberikannya setiap hari Minggu di Gereja. Dengan alasan itu saya katakan pada papa, kalau kita akan ketemu setiap minggu di Gereja. Akhirnya mau tidak mau dan karena kebutuhan, papa ikut ibadah bersama kami di gereja. Saya senang sekali dan terus berdoa untuk papa, Tuhan yang akan ambil alih kehidupannya dan itu berjalan selama beberapa tahun lamanya.

Hingga tahun 2018 papa jatuh stroke namun masih bisa beraktifitas, 2019 papa jatuh di kamar mandi karena papa hidup sendiri, istri pertama papa sudah meninggal. Akhirnya papa dibawa dan dirawat di ICU.

Hingga pada suatu hari saat saya sedang di kantor, ada rasa kangen untuk ketemu papa. Padahal baru kemaren saya menjenguk papa. Akhirnya di saat makan siang saya putuskan untuk menjenguk papa. Namun begitu tiba di RS ternyata keadaan papa drop dan kritis, telat 5 menit saja mungkin saya tidak akan ketemu papa lagi. Di situlah saya doakan papa, saya bisikan ditelinganya: "Papa uda ya, kalau Papa mau pergi... pergi aja, tapi inget ya Pa perginya sama Tuhan Yesus ya. Minta ampun sama Tuhan Yesus ya Pa." Setelah saya katakan itu, beberapa detik kemudian papa meninggal.

Saya percaya Firman Tuhan yang mengatakan dalam Kisah Para Rasul 16:31,

Jawab mereka: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu."

Satu hal saya percaya bahwa pada saat terakhirnya, papa sudah bersama dengan Tuhan Yesus. Meskipun banyak hal yang dilakukan selama hidupnya jauh dari sempurna. Namun pada akhir hidupnya papa sudah mengenal Tuhan Yesus. Dengan cinta kasih yang saya dan suami berikan untuk papa, saya percaya apa yang kami tabur dalam kehidupan papa tidak akan pernah sia-sia.

Sejak kecil saya sudah berdoa, dan Tuhan menjawab doa saya. Meski pun jalannya Tuhan tidak pernah kita mengerti, namun saya percaya, segala jalannya Tuhan adalah baik adanya.
Tuhan telah memelihara hidup saya sampai hari, semuanya baik. Saya bersyukur boleh mengenal Tuhan Yesus, dan saya percaya akan kuasa doa, bahwa apa saja yang kita doakan, asalkan dengan sungguh-sungguh dan percaya, Tuhan pasti akan menjawab dengan waktu dan cara-Nya sendiri.

 

GBI Jalan Jend Gatot Subroto