KEKUATAN DOA MENGALAHKAN KETAKUTAN

20 Jul, 2020

Shalom,
Nama saya Diyan Surianto dari Rayon 1B. Pada tanggal 12 Maret 2020 saya jatuh sakit selama 3 hari, suhu badan saya mencapai 38,50, bahkan lebih. Saya sudah berobat ke dokter dan dokter menganjurkan agar saya test darah. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukan kalau tifus saya tinggi.

Malam harinya tanggal 15 Maret 2020, saya sudah tidak tahan lagi dengan kondisi yang saya rasakan. Oleh karena itu saya minta dirawat di rumah sakit saja, karena demam saya tidak kunjung reda menyebabkan badan saya terasa sangat tidak enak. Saya juga tidak bisa makan dan indera penciuman saya pun sudah tidak bisa merasakan apa-apa. Akhirnya malam itu saya masuk rawat inap di rumah sakit.

Saya menjalani berbagai pemeriksaan, rontgen paru-paru, thorax dan juga test darah lagi. Hasil test darah saya baik, tetapi di paru-paru saya ada bercak-bercak putih (pneumonia). Pada tanggal 17 Maret 2020, saya kembali rontgen paru-paru, hasilnya puji Tuhan keadaan saya membaik. Singkat cerita pada tanggal 19 Maret 2020 saya sudah diperbolehkan pulang ke rumah.

Beberapa hari kemudian tanggal 24 Maret 2020, saya kembali kontrol ke rumah sakit. Namun hasil pemeriksaan rontgen paru-paru saya memburuk; ada banyak bercak-bercak putih. Dokter meminta saya untuk CT scan, agar dapat memastikan apakah saya mengarah ke COVID-19 atau tidak. Saya diminta untuk isolasi mandiri di rumah dan juga menjalani test SWAB yang akan dilakukan oleh petugas Dinas Kesehatan. Terus terang hati saya berkecamuk, pikiran saya kacau-balau, memikirkan bagaimana jika petugas Dinkes datang ke rumah dengan mobil ambulans dan memakai pakaian APD lengkap, tentunya tetangga-tetangga akan terkejut, dan juga takut. Saya tidak mau keluarga saya didiskriminasikan.

Akhirnya saya mengisolasikan diri saya di rumah, di kamar yang terpisah dengan istri dan anak-anak. Karena tidak ada kabar dari Dinkes, saya pun menghubungi rumah sakit mengenai rencana test SWAB. Puji Tuhan, pada tanggal 31 Maret 2020 saya dihubungi oleh dokter, diperbolehkan untuk test SWAB di rumah sakit. Saya bersyukur kepada Tuhan, karena campur tangan Tuhan yang mengatur semua ini.

Hasil test SWAB baru keluar 10 hari kemudian, yaitu tanggal 10 April 2020. Satu hari sebelum hasil test SWAB itu keluar, saya datang ke rumah sakit untuk rontgen paru-paru dan puji Tuhan hasilnya baik, bercak-bercak putihnya sudah hilang. Saya pun lega.

Namun di luar dugaan ternyata hasil test SWAB saya positif COVID-19. Pikiran saya jadi kacau, imunitas tubuh saya langsung turun. Karena saya di rumah selain tinggal bersama istri dan kedua anak saya, ada juga papa dan mama saya. Saya tidak ingin papa mengetahui hal ini, oleh sebab itu saya menyembunyikan hal ini dari papa. Saya memberitahukan apa yang saya alami ini kepada Gembala saya Pak Alex Leo dan beberapa teman sepelayanan di Gereja. Mereka semua turut mendoakan untuk kesembuhan saya.

Setelah saya mengetahui hasil test SWAB saya positif COVID-19, saya diharuskan minum obat Chloroquine yang harus saya minum sehari sebanyak 4 butir, beserta obat antibiotik lainnya yang harus saya konsumsi selama 5 hari untuk persiapan test SWAB ke 2. Tetapi baru 3 hari minum obat itu, jantung saya berdetak kencang, mual , juga keluar keringat dingin dan kepala saya pusing. Diantar oleh istri saya pun memeriksakan diri kepada 2 dokter spesialis, penyakit dalam dan dokter jantung. Puji Tuhan setelah cek EKG, jantung saya normal. Namun saya tetap harus minum obat itu sampai tuntas supaya virusnya mati.

Karena di rumah saya tinggal bersama dengan beberapa anggota keluarga, maka Gembala saya memberikan referensi agar menghubungi dokter dari salah satu pengerja di gereja supaya keluarga saya segera menjalani Rapid test. Tetapi dari dokter tersebut kami sekeluarga langsung mendapat test SWAB, dan saya pun menjalani test SWAB ke-2.

Sepulang dari Puskesmas, pada sore harinya, Maureen anak saya yang pertama badannya panas. Sudah diberikan obat namun selama 4 hari panasnya naik turun, isteri saya langsung membawa Maureen ke rumah sakit. Melihat hal ini hati saya sedih sekali, pikiran saya tidak karuan karena dalam kondisi ini saya tidak dapat berbuat banyak. Saya takut anak saya terpapar.

Di sinilah saya terus berdoa, memohon, meminta kepada Tuhan agar pemeriksaan anak saya semuanya baik. Puji Tuhan hasil pemeriksaan Trombosit dan Leukositnya semuanya baik. Tetapi malam harinya panas anak saya kembali naik sampai 40 dan muntah, namun anak saya menolak dibawa ke rumah sakit. Sementara itu saya sedang menjalani isolasi, saya hanya bisa berkomunikasi lewat telepon dengan istri dan berdoa bersama. Kami berseru dengan kuat kepada Tuhan, saya sudah pasrah, saya sudah tidak kuat lagi. Tetapi Tuhan berkata, "Percayalah kepada-Ku, janganlah takut dan jangan bimbang."

Keajaiban pun terjadi! Tidak lama selesai kami berdoa panas anak saya turun, turun terus dan akhirnya tidak panas lagi sampai sembuh total. Puji nama Tuhan, Tuhan Yesus dahsyat, Tuhan Yesus ajaib! Di saat kita berseru Tuhan mengetahui segala keluh kesah kita, Dia tidak pernah meninggalkan kita, kita harus mempunyai iman yang kuat, senantiasa mengandalkan Tuhan dan berharap kepada Tuhan saja.

Selama 8 hari menunggu hasil test SWAB, kami tetap bersatu dalam doa. Walaupun saya sedang masa isolasi mandiri kita tetap membangun mezbah keluarga di malam hari, walaupun jarak posisi saya agak berjauhan. Anak-anak dan papa saya dulunya tidak pernah berdoa atau jarang berdoa, tetapi dengan kondisi situasi seperti ini mereka mulai tekun berdoa, sehingga semuanya diluputkan dari COVID-19.

Setelah 8 hari kemudian keluarlah hasil test SWAB kami. Puji Tuhan! Semua hasilnya negatif, saya dan keluarga diluputkan dari COVID-19. Saya percaya semuanya ini karena perlindungan Tuhan, Tuhan Mahakuasa. Walaupun secara tidak langsung berinteraksi dengan istri dan orang tua saya tetapi kami berada di dalam satu rumah, kalau dipikir sangat mungkin tertular. Saya sangat percaya Tuhan yang meluputkan kami semua.

Sebelumnya papa saya juga sempat sakit panas mencapai 37 derajat. Badannya terasa tidak enak, beliau sakit maag selama 2 minggu sampai pergi berobat ke 3 dokter. Melihat situasi seperti ini saya sempat stress saya berpikir pasti papa terpapar dari saya. Tetapi berkat doa kami sekeluarga akhirnya papa saya sembuh total dari sakit yang dialaminya.

Setelah hasil test SWAB saya yang ke-2 keluar, 5 hari kemudian dokter meminta untuk test SWAB yang ke-3 guna memastikan saya sudah sembuh total dari COVID-19. Setelah 12 hari kemudian saya mendapatkan hasilnya, Puji Tuhan! Hasilnya negatif. Saya sudah sembuh total.

Selama saya mengalami sakit melewati berbagai pemeriksaan medis, sampai saya harus menjalani isolasi mandiri di rumah, banyak sekali pengalaman hidup yang saya lihat dan alami dengan Tuhan. Ada banyak pertolongan dan kekuatan yang Tuhan berikan. Karena setiap kali melihat ada kekuarga saya yang jatuh sakit, saya langsung berpikir jangan-jangan terpapar dari saya. Hal inilah yang mengintimidasi pikiran saya, ada perasaan takut dan kuatir. Namun saya bersyukur ada kekuatan doa dalam keluarga, Tuhan hadir di dalam ketidak-berdayaan kami. Ada teman-teman sepelayanan dan Gembala yang berdoa buat saya. Sehingga saya dan keluarga diluputkan.

Hanya Tuhan Yesus satu-satunya yang saya andalkan. Pagi, siang dan malam saya berseru kepada Tuhan dan terus memperkatakan Firman Tuhan. "Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan dan yang menaruh harapannya kepada Tuhan." (Yeremia 17:7)

 

GBI Jalan Jend Gatot Subroto