KASIH YANG MULA-MULA DALAM BERKOMUNITAS DI COOL

09 Nov, 2020

Pendahuluan:
Kembali pada kasih yang mula-mula. Ini merupakan sebuah pesan yang sangat penting bagi kita hari-hari ini yang sedang menantikan kedatangan Tuhan Yesus kali yang kedua. Kasih yang mula-mula memastikan kita untuk senantiasa memiliki kerinduan yang besar akan perjumpaan dengan Tuhan Yesus melalui Roh Kudus dalam doa, pujian, penyembahan dan pembacaan Firman Tuhan.

Pembahasan Sharing:
Kasih yang mula-mula tidak hanya nampak nyata dalam kehidupan disiplin rohani diri pribadi semata, tetapi nampak juga dalam persekutuan dengan orang percaya. Mari kita mengukur kadar kasih kita yang mula-mula dalam persekutuan dengan orang percaya lainnya dengan beberapa parameter berikut:

Senantiasa rindu untuk bersekutu dengan orang percaya lainnya
Rasa ingin cepat bertemu. Itulah salah satu manifestasi yang nampak dari sebuah gejala rindu. Jemaat yang kasih mula-mulanya senantiasa berkobar-kobar selalu menanti-nantikan kapan saatnya untuk berkumpul kembali dalam COOL. Sebaliknya mereka yang mulai suam-suam, kadang untuk ikut COOL saja harus ‘didorong-dorong' lebih dahulu dan akhirnya ikut COOL dengan setengah hati.

Perhatikan bagaimana jemaat mula-mula hidup:
"Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan." (Kisah Para Rasul 2:46-47)

Kerinduan yang besar untuk bersekutu dengan orang percaya lainnya. Jika saat ini kita dalam kondisi yang tidak seperti ini, mari kita periksa diri kita masing-masing, apakah kasih yang mula-mula kepada Tuhan Yesus masih berkobar dalam diri kita?

 


Memiliki semangat untuk bertumbuh secara rohani
Jemaat yang memiliki kasih yang mula-mula bukan hanya memiliki kerinduan untuk sekedar berkumpul saja, lebih dari itu memiliki semangat untuk bertumbuh secara rohani. Itu sebabnya, mereka yang memiliki kasih yang mula-mula tidak pernah menolak, tidak pernah mangkir, tidak pernah ‘melarikan diri' dari tugas-tugas yang diberikan oleh gembala COOL. Misalnya memimpin pujian dan penyembahan di COOL, menyampaikan kesaksian tentang kebaikan Tuhan Yesus yang kita alami serta memimpin doa, baik itu doa pembukaan, doa syafaat maupun sekedar doa ucapan syukur, bahkan memimpin jalannya sharing di COOL. Mereka yang penuh dengan kasih yang semula menganggap kepercayaan yang diberikan tersebut sebagai sebuah kesempatan untuk belajar untuk melayani, memperlengkapi diri dan belajar untuk menjadi berkat bagi saudara-saudara seiman di COOL. Bukan semangat karena menganggap semua itu sebagai sebuah kesempatan untuk show off.

"Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin." (1 Petrus 4:10-11)


Menyatakan kasih kepada sesama saudara seiman
COOL adalah sebuah keluarga rohani bagi kita. Dalam COOL kita memiliki bapak dan ibu rohani, kita memiliki saudara-saudara (kakak dan adik) rohani. Merekalah yang akan selalu bersama-sama dengan kita dalam bertumbuh secara rohani. Dalam keluarga tentu ada kasih yang mengikat. Keluarga yang tanpa kasih adalah keluarga yang hambar, tawar dan tidak ada ‘kehangatan' di dalamnya.

Bagaimana kita menyatakan kasih kepada keluarga rohani kita? Kepada sesama saudara seiman? Dengan menyatakan perhatian, saling menasehati, saling mendukung dalam doa, memberikan motivasi satu dengan yang lain serta saling menjaga agar tidak ada seorang pun yang jatuh dan meninggalkan iman.

Kita tidak dapat memberi dari yang kita tidak punya. Jika kita tidak memiliki kasih mula-mula yang berkobar-kobar, kita tidak dapat menyatakan kasih kepada sesama saudara seiman.

"Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (Yohanes 15:9-13)

Penutup:
Mari kita kembali pada kasih yang mula-mula. Jemaat yang berkobar dengan kasih yang mula-mula memiliki kerinduan untuk bersekutu dengan orang percaya lainnya, memiliki semangat untuk bertumbuh secara rohani dan senantiasa menyatakan kasih. (DL)

 

GBI Jalan Jend Gatot Subroto