MEMBERI DENGAN TAAT DAN SUKACITA ADALAH KORBAN YANG HIDUP

27 Jan, 2017

Maka Ia bertanya kepada mereka: “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Matius 22:20-21).

Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. (Efesus 5:1-2).

Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah. Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. (Filipi 4:18-19).

Topik terbesar yang paling sering diajarkan oleh Tuhan Yesus adalah mengenai uang dan harta milik. Di dalam kisah Tuhan Yesus dengan hikmat Ilahi mengalahkan kecerdikan ahli-ahli Taurat dan orang Farisi yang ingin menjebaknya dengan bertanya apakah sah membayar pajak kepada Kaisar? Tuhan Yesus menjawab dengan mengajarkan bahwa kepemilikan atas dirham perak tersebut didasarkan karena ada cetakkan rupa Kaisar di atas mata uang tersebut. Di dalam kekaisaran Romawi semua emas dan perak secara teknis adalah milik Kaisar, dan “dipinjamkan” kepada yang membawa mata uang tersebut karena mereka beroperasi di bawah sistem ekonomi Roma dan menghormati kepemilikan kaisar atas semua emas dan perak. 

Prinsip yang sama berlaku atas hidup kita sebagai orang percaya. Apakah nilai yang diwakili oleh secarik uang kertas? Sebetulnya uang tersebut melambangkan kehidupan kita. Waktu, tenaga, usaha, daya cipta yang kita buang dan ditukarkan untuk mendapatkan secarik uang kertas tersebut. Namun jika kita bertanya dimanakah Allah menaruh gambar dan rupa-Nya di dalam alam semesta ini, maka jawaban yang semestinya adalah Allah telah menaruh gambar dan rupa-Nya di dalam diri kita semua sebagai manusia, dan kita “diijinkan” oleh DIA untuk beroperasi dan mengambil bagian di dalam sistem ekonomi Kerajaan Allah, di mana kita memperoleh keberhasilan. 

Sama seperti pajak Romawi adalah pengakuan atas kemurahan hati kaisar yang mengijinkan rakyatnya mengambil bagian di dalam sirkulasi keuangan di dalam kekaisaran Romawi, demikianlah persembahan yang kita kembalikan kepada Tuhan mengekspresikan penghormatan kita kepada Allah sebagai pemilik atas seluruh sirkulasi keuangan dalam kehidupan kita. 

Dengan pengertian seperti di atas inilah kita dapat mengerti ulasan Paulus ketika ia menyampaikan prinsip mengenai pengorbanan. Prinsip sederhananya adalah “no worship without sacrifice” (tidak ada penyembahan tanpa pengorbanan). Di dalam Efesus 5:1-2 pengorbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib digambarkan sebagai salah satu bagian korban Imamat di dalam Perjanjian Lama yaitu tiga jenis korban yang bersifat sukarela (korban bakaran, korban sajian, korban pendamaian) yang menurut tradisi Yahudi asap yang naik ke sorga berwarna putih dan merupakan korban yang harum di hadapan Tuhan;  sedangkan dua korban lainnya yang bersifat wajib (korban penghapus dosa dan korban pelanggaran) asap yang naik berwarna hitam dan tidak berbau harum. 

Di dalam kasus ini Paulus sedang menggambarkan sikap hati Tuhan Yesus yang dengan sukarela mempersembahkan hidupnya di atas kayu salib;  bukan sebagai keharusan untuk menghapus dosa manusia, tetapi dilakukannya dengan sukarela untuk menyenangkan hati Bapa. 

Di dalam Filipi 4:18-19 istilah yang sama juga dipakai oleh Paulus untuk menggambarkan kerelaan jemaat Filipi untuk memberi persembahan misi dalam rangka mendukung pekerjaan pemberitaan Rasul Paulus jauh melebihi kemampuan finansial mereka. Di dalam hal ini pemberian mereka sudah sampai ditingkat pengorbanan. 

Tidak heran Paulus; karena menemukan unsur-unsur tersebut di atas (kerelaan, ketaatan, sukacita) berani menggunakan istilah yang sama di dalam menggambarkan korban finansial yang dilakukan oleh jemaat di Filipi dengan istilah yang sama yang dipakai olehnya untuk menggambarkan korban Tuhan Yesus di Kayu Salib. Prinsipnya sangat nyata; Tuhan Yesus di dalam menyatakan ketaatannya kepada kehendak Bapa dengan sukarela dan sukacita taat sampai kepada kematian, karena memang itulah misi yang ditetapkan oleh Bapa untuk diselesaikan-Nya. 

Kita tidak dibebani tugas yang seperti itu. Tidak ada gunanya untuk kita mati di kayu salib dan mencurahkan darah kita. Namun kepada kita diberikan tugas untuk memberitakan injil (kabar baik apa yang telah dilakukan Yesus Kristus untuk manusia), apakah dengan cara pergi memberitakan injil maupun mendukung mereka yang bertugas pergi memberitakan injil juga adalah bentuk ketaatan kita yang “ekstrim” kepada kehendak Bapa dengan penuh perngorbanan. Amin.

GBI Jalan Jend Gatot Subroto