DIBERKATI TAPI TETAP BERTUMBUH DAN

14 Dec, 2020

Pendahuluan:
Apakah salah menjadi kaya? Tentu tidak! Sejauh kekayaan yang kita miliki adalah berkat yang disediakan dan dilimpahkan TUHAN bagi kita. Kalimat ini tentu mencakup aspek motivasi, cara mendapatkan, sikap kita terhadap kekayaan dan bagaimana kita menggunakan kekayaan yang diberikan-Nya kepada kita.
Dalam salah satu perumpamaan-Nya Tuhan Yesus berkata: "Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." (Matius 19:24). Hal ini dipertegas dengan apa yang dinyatakan dalam Kitab Wahyu 3:14-22 merupakan pesan Tuhan Yesus kepada jemaat di Laodikia. Jemaat di Laodikia adalah jemaat yang kaya secara materi. Mereka berdagang emas, salep mata yang sangat terkenal, dan juga berdagang baju-baju. Mereka berkata: aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa.
Tuhan Yesus berkata kepada mereka: "Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku."
Jadi tipu daya kekayaan dan kenikmatan hidup akan membuat orang Kristen suam-suam kuku dan tidak berbuah itu akan dimuntahkan oleh Tuhan Yesus. Artinya mereka akan kehilangan keselamatan kalau mereka tidak bertobat.
Bagaimana agar kita diberkati namun tetap bertumbuh dan "on fire"?
ISI:

1. Jangan mengejar kekayaan.
"Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." (1 Tim 6:9-10)
Mengejar kekayaan sangat berpotensi membuat seseorang menjadi kehilangan banyak waktu untuk bersekutu dan beribadah dengan Tuhan Yesus, memiliki waktu yang berkualitas dengan keluarga dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar kita. Mereka yang mengejar kekayaan selalu mengukur waktunya dengan uang. "Time is Money!" Bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengejar kekayaan jatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan berbagai hawa nafsu. Misalnya mencari jalan pintas untuk memperoleh kekayaan tanpa mempedulikan apakah cara tersebut sesuai dengan Alkitab atau tidak. Pikiran mereka berkata: "gak apa-apa, yang penting jadi orang kaya dulu, nanti kalau sudah kaya tinggal bertobat dan minta ampun." ini adalah pemikiran yang sangat keliru dan menyesatkan!
Tidak memiliki waktu untuk bersekutu dan beribadah kepada Tuhan Yesus tentu berdampak secara langsung terhadap kerohaniannya. Dan dapat dipastikan yang model seperti ini tidak akan bertumbuh secara rohani.
"Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." (1 Tim 6:10)
Gembala Sidang/Pembina menyampaikan: "Jadi hati-hati dengan tipu daya kekayaan dan kenikmatan hidup. Karena itu bisa membuat orang kehilangan keselamatan."

2. Jangan menggantungkan pengharapan kepada kekayaan.
"Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati." (1 Tim 6:17)
Mari kita perhatikan apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus jauh sebelum Paulus menuliskan surat ini kepada anak rohaninya, Timotius.
Lukas 12:16-21
"Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."
Apa yang dialami oleh Ayub, menjadi suatu bukti hidup bagi kita bahwa harta yang kita miliki dengan mudahnya dapat habis dan hilang hanya dengan sekejap mata saja (Ayub 1:13-17). Ayub belajar melalui proses kehilangan harta, namun ia mendapatkan yang jauh lebih berharga, yakni pengenalan secara pribadi akan TUHAN yang disembahnya. Sangat berbeda dengan seorang pemuda kaya yang datang kepada Tuhan Yesus:
Matius 19:20-22
"Kata orang muda itu kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?" Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya."
3. Pergunakanlah kekayaan untuk menjadi berkat bagi orang lain.
"Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat." (Kejadian 12:2)
"Diberkati" tidak bisa dilepaskan dengan "menjadi berkat", sebab itu adalah salah satu tujuan utama mengapa TUHAN memberkati kita, yakni agar kita menggunakan kekayaan tersebut untuk menjadi berkat bagi banyak orang dan bukan sekedar hanya untuk dinikmati diri kita sendiri atau keluarga saja.
1 Timotius 6:18-19
"Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.

Penutup:
Tidak salah diberkati berlimpah-limpah dan menjadi kaya, tapi ingat: jangan mengejar kekayaan, jangan menggantungkan diri pada kekayaan dan gunakan kekayaan kita untuk menjadi saluran berkat bagi yang lain. Be blessed, keep on growing and always on fire! Maranatha! (DL)

 

GBI Jalan Jend Gatot Subroto