DIBERI KESEMPATAN KEDUA UNTUK MELAYANI TUHAN

01 Nov, 2021

"Sesungguhnya,
Aku akan mendatangkan kepada mereka kesehatan dan kesembuhan,
dan Aku akan menyembuhkan mereka
dan akan menyingkapkan kepada mereka kesejahteraan
dan keamanan yang berlimpah-limpah."
Yeremia 33:6 TB

Nama saya Michael Sofian, telah menikah dengan Natalia Hidayat dan dikaruniai seorang putri yang bernama Gracia. Saya terlahir sebagai seorang Kristen yang lahir baru sejak masa kuliah dan aktif melayani Tuhan sejak tahun 1998, saat ini saya terhisap dalam suatu wadah Gereja CK 3 di bawah pembinaan Bapak Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo. Kesaksian saya ini bermula dengan keluarga istri saya yang terkena COVID-19, itu terjadi sekitar tanggal 24 Desember 2020. Istri saya pada awalnya tidak curiga kedua orang tuanya terkena COVID-19, memutuskan untuk menemani mereka dan tidur di kamar mereka, kami juga meminta mbak di rumah untuk memijat mereka.

Kami akhirnya membawa kedua orang tua kami ke rumah sakit, untuk diperiksa lebih lanjut dan dokter memutuskan untuk melakukan CT Scan paru-paru dan juga tes PCR. Hasil CT Scan paru-paru mengagetkan kami semua, ternyata mereka berdua terkena COVID-19. Meskipun hasil tes PCR belum keluar, dokter sudah dapat memastikan bahwa mereka sudah positif COVID-19. Kami memutuskan agar mereka dapat dirawat segera dan Puji Tuhan tepat pada hari itu di rumah sakit tersebut akan dibuka ruang perawatan khusus COVID-19, sehingga kami langsung mendaftar dan kedua orang tua kami dapat dirawat.

Setelah kejadian itu, kami memutuskan untuk melakukan tes PCR atas seluruh anggota keluarga, dan hasilnya cukup mengagetkan; istri saya, mbak dan supir kami dinyatakan positif COVID-19, namun saya bersyukur pada waktu itu karena hasil tes PCR saya dan anak kami hasilnya negatif. Akhirnya istri saya isolasi mandiri di rumah dan saya tetap bekerja di kantor.

Pada awal tahun baru, saya bertugas melayani kedukaan salah satu pengerja dan sebelumnya saya juga telah melakukan tes Swab Antigen untuk memastikan saya tidak terkena COVID-19. Selain itu untuk menjaga imunitas, saya juga cukup rajin melakukan olah raga bersepeda.

Tiba tiba 3 hari setelah pelayanan dan tugas kantor, saya merasakan kurang enak badan, sehingga istri saya memaksa untuk segera berkonsultasi kepada dokter yang merawat orang tua saya. Dokter menyarankan agar saya melakukan CT Scan paru paru untuk melihat apakah saya terkena COVID-19 atau tidak. Pada saat itu para dokter spesialis tidak bertugas karena liburan tahun baru, sehingga hasil CT Scannya tidak ada yang dapat memberikan penilaian atau diagnosa. Petugas menjawab besok hasilnya baru bisa diambil karena para dokter sedang libur, jadi saya memutuskan untuk pulang saja.

Malam harinya saya merasakan dada saya kurang enak dan rasanya begitu aneh, karena waktu berjalan di rumah sakit, saya juga merasa seperti kecapaian dan susah bernapas karena harus naik turun tangga. Akhirnya Istri saya memaksa untuk ke rumah sakit kembali dan menuju IGD untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dokter jaga IGD juga bingung bagaimana mendiagnosa saya lebih lanjut karena tidak ada data PCR tes dan juga hasil rontgennya.

Dokter IGD kemudian meminta hasil rontgen ke dokter spesialis, supaya dapat dilihat hasilnya. Setelah 2 jam menunggu, hasilnya pun keluar. Berita yang mengejutkan dikabarkan oleh dokter jaga. Saya terkena COVID-19, di mana 25% dada kiri dan 50% dada kanan saya sudah putih semua. Dokter menganjurkan saya agar dapat segera dirawat. Namun rumah sakit penuh, tidak tersedia ruang rawat COVID-19 buat saya.

Saya menghubungi adik saya yang kebetulan adalah seorang dokter dan dia meminta kepada istrinya yang juga seorang dokter juga untuk membantu saya agar dapat dirawat. Tuhan Yesus sungguh baik, karena ia ternyata dokter yang bertugas merawat pasien COVID-19 juga. Singkatnya saya masuk pada salah satu rumah sakit yang dimonitor oleh adik ipar saya sendiri.

Beberapa hari dirawat, keadaan saya kelihatannya semakin memburuk. Ini terlihat dari pemakaian jenis kepala oksigen yang sempat diganti sebanyak 3 kali.
Pada malam sebelum saya masuk ke ICU, saya diberi mimpi oleh Tuhan, saya diajak pulang oleh 4 orang, satu orang itu (saya yakin itu Tuhan Yesus) berkata kepada saya: "Mike, ayo kita pulang", dan saya langsung menjawab: "Ayo, saya juga sudah lelah di dunia ini." Jadi saya langsung bangun, berdiri dan berjalan bersama mereka menuju pintu yang terang, berwarna putih.

Setelah berjalan beberapa langkah, tiba tiba saya teringat istri dan anak saya. Saya berkata kepada orang itu: "Tunggu sebentar, bagaimana dengan Lia dan Gracia ya?" Saya mengatakannya 2 kali, dan setelah itu saya terbangun.
Keesokan harinya, adik ipar saya mengatakan bahwa saya akan dibawa ke ICU, agar saya dapat dimonitor dengan lebih baik. Saya pun setuju saja. Pihak rumah sakit menelpon ke rumah dan mengatakan bahwa saya akan dibawa ke ICU. Ini membuat seluruh keluarga menangis dan sedih, istri saya sampai memohon supaya saya jangan dipasang ventilator. Papa saya yang juga seorang dokter ikut menangis. Mama juga sudah pasrah dengan keadaan saya. Saya harus meminum obat yang jumlahnya banyak sekali dan juga banyak cairan yang masuk dalam tubuh saya.

ICU COVID, bukanlah tempat yang nyaman untuk dirawat. Tiap hari terdengar tangisan ketakutan permintaan tolong. Saya juga menyaksikan orang yang dipanggil pulang di kiri dan kanan saya, dan saya merasakan kesulitan untuk bernapas.

Saturasi oksigen saya hanya sekitar 80% an, itu pun sudah menggunakan mesin. Saya berkata kepada Tuhan Yesus: "Tuhan, kalau Tuhan panggil hari ini saya siap, karena saya tahu kemana saya akan pergi. dan kalau Tuhan ijinkan saya untuk sembuh, saya mau melayani Tuhan dan keluarga lebih lagi."
Anehnya, saya merasa sangat tenang di ruang ICU, meskipun suasananya sungguh tidak menyenangkan. Ibu gembala berdoa kepada Tuhan supaya saya jangan dipanggil pulang seperti bapak gembala kami sebelumnya, bahkan semua pengerja dan jemaat yang mengenal sayapun bersatu hati berdoa untuk kesembuhan saya.
Lima hari berada di ICU, akhirnya saya dinyatakan boleh kembali ke ruang rawat biasa. Mereka katakan bahwa kondisi saya sudah mulai membaik, sehingga tempatnya bisa dipakai untuk orang yang lebih kritis. Yang lebih luar biasa, setelah 3-4 hari dirawat saya diperbolehkan pulang, karena mereka yakin saya akan sembuh. Puji Tuhan!

Setelah saya isolasi di rumah selama 1 bulan, saya kembali berkonsultasi kepada dokter paru-paru di rumah sakit dan foto rontgen. Hasilnya sungguh mengejutkan; Tuhan Yesus telah menyembuhkan paru-paru saya dari 70% terkena COVID-19 menjadi sembuh dengan sempurna.
Yang menyembuhkan dan memulihkan kita bukan obat-obatan yang masuk dalam tubuh kita, juga bukan karena dokter semata, tapi sepenuhnya karena Tuhan Yesus. Karena Dialah kita dipulihkan kembali. Dialah yang memberikan kesejahteraan dan berkat buat kita.
Kita punya Tuhan yang dashyat. Jangan kuatir, Dia akan memyembuhkan, memulihkan dan memberikan damai sejahtera pada kita. Apapun keadaan kita saat ini, percayalah Tuhan Yesus yang pegang kendali atas kehidupan ini. Berpegang terus pada Firman-Nya. Kita akan melihat perkara besar dan ajaib terjadi atas hidup kita.

Terpujilah Tuhan Yesus, Dia memberikan kesempatan kedua kepada saya untuk melayani Dia dan keluarga.

 

GBI Jalan Jend Gatot Subroto