DALAM BADAI, TUHAN TAK TINGGALKANKU

13 Jul, 2020

Shalom,
Perkenalkan nama saya Jimmy Ho dari CK 7. Sepulang dari perjalanan tour pada pertengahan bulan Maret 2020, saya mengikuti peraturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, yaitu mengisolasikan diri saya sendiri selama 14 hari, meskipun saya tidak merasakan gejala lain, selain merasa lelah.

Selama saya menjalani isolasi mandiri di rumah, Dessy istri saya sempat mengalami batuk dan radang tenggorokan. Di masa pandemi virus COVID-19 ini, tidak kebetulan di tempat istri bekerja dilakukan test SWAB terhadap istri saya. Dan karena saya adalah orang terdekatnya, maka saya pun turut menjalani test SWAB. Setelah menunggu beberapa hari kemudian keluarlah hasil test SWAB tersebut, yang menunjukkan hasil dari istri saya negatif, sementara saya hasilnya positif.

Saya cukup terkejut dengan hasil test tersebut, karena saya tidak menunjukan atau merasakan gejala apapun; baik itu batuk, sesak napas, mual, nafsu makan hilang, seperti yang dirasakan pada kebanyakan penderita COVID-19. Maka saya dikategorikan sebagai OTG (orang tanpa gejala). Hal ini disebabkan karena daya tahan imun tubuh saya cukup kuat, oleh sebab itu saya langsung ditangani sedini mungkin agar tidak menyebar.

Dari Puskesmas saya dirujuk ke rumah sakit yang khusus menangani pasien COVID-19.
Tanggal 25 Maret 2020 saya masuk ruang isolasi dengan menempati 1 kamar yang berisi 6 orang pasien. Saya juga menjalani berbagai pemeriksaan, seperti rontgen paru-paru. Di situlah baru jelas kalau saya positif COVID-19. Hasil rontgen memperlihatkan bahwa di paru paru saya ada banyak titik-titik putih yang mengindikasikan adanya virus COVID-19.

Pada tanggal 31 Maret 2020 saya test SWAB ke-2. Saya berharap test tersebut hasilnya baik, namun ternyata hasilnya tetap positif. Di sinilah rasa takut itu mulai muncul. Perasaan saya campur aduk dan pikiran saya mulai tidak tenang. Saya mulai kuatir dengan keadaan yang ada. Saya mulai merasa tertekan. Berbagai pertanyaanpun timbul dalam hati, karena saya:
sudah menjalani isolasi di rumah sakit,
sudah ditangani oleh dokter,
sudah minum obat.
Kenapa saya masih positif?
Karena perasaan kuatir dan takut, badan sayapun mulai terasa sakit, ngilu pada seluruh badan dan tidak nyaman. Saat-saat seperti ini dalam masa isolasi saya banyak berdoa meminta kekuatan kepada Tuhan, sebab hanya Dia yang bisa memberikan ketenangan dalam batin. Sebab selama dikarantina tidak ada orang yang boleh berkunjung.

Tidak ada cara lain yang dapat membangun kerohanian kita kepada Tuhan selain kita memuji-muji Tuhan, dan mendengarkan lagu puji-pujian. Namun di tengah kesendirian itu saya bersyukur karena selain keluarga, ada dukungan doa dari teman-teman sepelayanan, dari COOL CK 7; juga Gembala, yang terus mengalir memberikan support melalui WA, serta berdoa untuk kesembuhan saya. Inilah yang sangat menguatkan saya.

Selama saya dikarantina, ternyata Tuhan tidak tinggal diam. Pemeliharaan tangan Tuhan juga nyata atas keluarga saya di rumah, Tuhan yang merawat keluarga saya melalui teman-teman sepelayanan dan gereja yang membantu keluarga saya dalam kebutuhan logistik. Saat saya sakit saya banyak belajar melihat bahwa orang benar tidak akan pernah ditinggalkan-Nya, pertolongan Tuhan itu nyata.

Tanggal 16 April 2029 hasil test SWAB saya yang ke-3 keluar, hasilnya negatif. Puji Tuhan, Haleluya!
Saya dinyatakan sudah sembuh setelah selama 17 hari menjalani isolasi di rumah sakit. Saya melihat betapa pertolongan Tuhan dan pemeliharaan Tuhan yang nyata dalam hidup saya.

Dalam segala hal dari semuanya ini, saya banyak belajar untuk semakin mencintai-Nya. Saat saya positif COVID-19, Dia tidak pernah meninggalkan saya; juga keluarga saya pun diperhitungkan-Nya. Dia membuktikan, bahwasanya Dialah Tuhan Yesus yang hidup dan penuh kuasa. Haleluya!

 

GBI Jalan Jend Gatot Subroto