DALAM BADAI TUHAN MENYELAMATKANKU

22 Jun, 2020

Shalom,
Perkenalkan, nama saya Timotius Hendra, saya seorang hamba Tuhan yang sudah cukup lama melayani Tuhan, pastinya setiap hari saya berdoa supaya mendapatkan perlindungan Tuhan baik itu secara fisik dan jiwani. Memohon dalam setiap doa supaya sehat, mengalami damai sejahtera dan menerima berkat Tuhan yang dijanjikan-Nya, baik itu untuk diri sendiri juga untuk keluarga.

Namun Tuhan tidak menjanjikan langit selalu cerah, terkadang ada awan gelap, badai dan petir yang sangat menakutkan datang dalam hidup kita.

Tugas pelayanan dengan setia saya lakukan, membawa kabar baik kemana Tuhan mengutus saya ke segala penjuru dunia, bahkan tidak terasa sudah 22 tahun lebih saya melayani Tuhan sepenuh waktu.

Hingga pada suatu hari tanggal 24 Maret 2020, malam itu saya mengalami demam, batuk dan juga sesak nafas, saat itu saya masih bertahan di rumah dengan pengobatan yang ada. Tetapi pada akhirnya tanggal 28 Maret 2020, melihat kondisi saya yang batuk dan situasi yang saat itu sedang merebaknya virus COVID-19, atas anjuran keponakan yang juga seorang dokter, saya berobat ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan CT scan. Dan hasil CT scan itu menyatakan bahwa saya positif COVID-19.

Mendengar hasil tersebut sontak saya kaget sekali, tidak pernah terbersit dalam pikiran kalau saya akan terpapar. Apalagi saat itu rumah sakit menolak karena saya terjangkit COVID-19, maka saya dirujuk ke rumah sakit pemerintah yang khusus menanggani pasien COVID-19. Tetapi di sinipun saya ditolak, dengan alasan karena secara fisik saya masih terlihat kuat dan tempat tidur inap dibutuhkan untuk pasien yang gawat darurat. Keesokan harinya saya pergi ke rumah sakit lain di daerah Kebon Jeruk dan itu pun sudah penuh.

Namun pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat untuk menolong anak-Nya. Pada tanggal 29 Maret 2020 atas bantuan seorang saudara, saya dapat diterima di rumah sakit swasta yang cukup berkelas. Di sanalah saya menempati kamar isolasi sendirian.

Kalau saya perhatikan kamar isolasi yang saya tempati bukanlah kamar untuk rawat inap yang ada pada umumnya, melainkan ruang care pemerhati. Di dalamnya tidak ada toilet ataupun kamar mandi, hanya tersedia wastafel. Untuk BAB saja tidak ada closet tetapi hanya disediakan kursi yang diberikan baskom plastik. Di sinilah Tuhan mulai memproses saya, ibarat sudah jatuh masih tertimpa tangga.

Selama menjalani isolasi, di dalam kesendirian banyak hal yang saya renungkan. Ada rasa takut dan kuatir yang timbul mulai menyelimuti hati dan pikiran saya. Dengan kondisi ini apakah mungkin saya masih bisa melihat isteri tersayang? apakah saya masih bisa bertemu dengan anak, menantu dan cucu? Apalagi saya melihat berita-berita melalui Media Sosial juga whatsapp (WA) bahwa banyak rekan-rekan sepelayanan yang meninggal dunia akibat virus ini. Sekalipun saya seorang hamba Tuhan, namun rasa takut itu tetap ada.

Suster yang datang ke ruangan juga sangat dibatasi waktunya, rata-rata 4-5 jam sekali baru datang dan itupun sangat terburu-buru. Komunikasi kami hanya lewat WA, apa yang saya butuhkan, keluhannya apa? Yang nantinya akan disampaikan kepada dokter atau suster kepala. Setelah itu apa yang saya butuhkan baru akan dibawakan nanti oleh suster yang akan datang bertugas memeriksa ke kamar.

Dalam kondisi yang seperti itu rasanya saya ingin memberontak, protes kepada Tuhan. Mengapa penyakit ini menimpa diri saya? Bukankah saya sudah melayani dengan sungguh-sungguh dan setia.

Dalam keadaan hati yang sedikit kecewa, saya sempat WA ke suster kepala agar menghubungi dokter, bahwa saya minta pulang saja. Namun tiba-tiba sekilas saya teringat Yesaya 30:15,

"Sebab beginilah Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu." Tetapi kamu enggan,"

Dokter sempat datang untuk menghibur dan menenangkan saya, "Sabar ya pak...sabar." Karena saya begitu tertekan dan pikiran saya menerawang kemana-mana. Selama 2 hari itu saya mencoba menenangkan diri. Saya sudah mulai malas berdoa karena kedagingan dan pemberontakan, juga rasa kecewa sudah mulai menguasai hati dan pikiran saya. Namun di saat kondisi saya seperti itu, saya mencoba tetap memaksakan diri untuk tetap berdoa. Sebab saya percaya hanya doalah kekuatan saya.

Puji Tuhan, dalam kesendirian di kamar isolasi, saya tahu bahwa saya tidak sendirian. Ada banyak dukungan doa yang mengalir yang dikirimkan melalui WA, terutama isteri saya yang selalu menjadi tiang doa, menguatkan baik dalam perkataan dan doa-doanya. Selain itu banyak teman-teman sepelayanan dan pemimpin yang terus memberikan dukungan kepada saya. Setiap kalimat yang dikirimkan membangkitkan iman saya kembali.

Saya mulai bisa memuji dan menyembah Tuhan,

"Hanya dekat Allah saja aku tenang. Dari padanyalah keselamatanku. Hanya Dia gunung batuku, hanya Dia kota bentengku. Aku tidak akan goyah selama-lamanya."

Saya paksakan diri saya untuk terus bernyanyi memuji Tuhan dan mendengarkan lagu-lagu Pak Niko. Dari situlah saya mulai dapat kembali berbahasa roh, lalu apa yang terjadi? Dalam tinggal tenang, dalam kondisi saya tenang, maka demam saya mulai berangsur-angsur hilang, walaupun masih ada batuk tetapi sudah tidak ada rasa sesak nafas lagi.

Jadi pengkotbah itu penuh tuntutan dari Tuhan, tidak hanya cukup menyampaikan Firman Tuhan saja, tetapi harus bisa melakukan dan mengalaminya. Bahwa dalam keadaan tertekan sekalipun kita harus dapat terus memperkatakan Firman Tuhan. Dalam Pengkhotbah 3:11,

"Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir."

Pointnya adalah manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang sedang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Jadi saya mengakui bahwa otak saya tidak akan bisa menangkap pikiran Tuhan, sakit penyakit ini pasti ada tujuannya.

Mazmur 34:19,
"Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu."

Jika Tuhan mengizinkan saya mengalami sakit terpapar COVID-19, saya percaya bahwa Tuhan sedang mengajar, mendidik juga menegur saya. Saya mulai koreksi diri, dari sikap, motivasi pelayanan, dan malam itu saya benar-benar bertobat dan berdoa minta ampun kepada Tuhan.

Saya merasakan Firman Tuhan kembali mengalir dalam benak pikiran dan hati saya. Membangkitkan dan menguatkan sehingga saya bisa berteriak-teriak sendiri dalam kamar, mengucapkan perkataan-perkataan yang positif, serta menaikkan ucapan syukur kepada Tuhan Yesus. Saya teriakkan: "Tuhan Yesus baik! Tuhan Yesus baik!", dan kata-kata positif yang membangun.

Akhirnya setelah 10 hari saya dirawat, saya kembali menjalani pemeriksaan, di cek darah lengkap sebanyak 2 kali, CT scan ke 2 kali nya dan test SWAB atau PCR. Akhirnya pada tanggal 7 April 2020 dokter dan perawat memberitahukan bahwa semua hasil test laboratorium dan CT scan saya menunjukkan perkembangan yang baik, saya sudah sembuh dan boleh pulang ke rumah. Saat itu saya melonjak kegirangan, saya merasakan malam itu saya seperti terbebas dari penjara isolasi. Langsung saya bagikan kabar baik ini kepada keluarga.

Sebelum pulang saya minta izin dokter untuk mendoakan beliau, karena memang dokternya anak Tuhan yang cinta Tuhan. Mereka ini berjuang melayani pasien dengan resiko bisa tertular virus COVID-19 dan dokternya sangat berterima kasih karena pasiennya yang seorang pendeta mau mendoakan beliau. Waktu jumpa saat saya kontrol pada tanggal 22 April 2020, ia bersaksi bahwa dari lima puluhan pasien yang dirawat tidak ada yang meninggal dunia dan masih tersisa 8 pasien lagi yang sedang dirawat di rumah sakit tersebut... Haleluya, Puji Tuhan!

Dan inilah kesaksian saya, kiranya setiap kita yang mengalami badai, goncangan kita tetap tegar, kita tidak bisa lari kemana-mana hanya mencari Tuhan, hanya dekat Tuhan dan berharap kepada Dia. Maka cepat atau lambat kuasa dari Tuhan akan dinyatakan dengan sempurna. Tuhan Yesus memberkati.

GBI Jalan Jend Gatot Subroto