BERMEGAH DALAM KESENGSARAAN

04 Jul, 2022

Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita
tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan
uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena
kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. (Roma 5:3-5)

Sejujur-jujurnya, siapa sih manusia yang suka dengan kesengsaraan? Jika ada,
mungkin sebagian besar orang akan menganggap orang tersebut kurang waras! Bukankah
kesengsaraan adalah sesuatu yang harusnya kita hindari? Kita ‘tengking' agar menjauh dari
hidup kita? Berbeda dengan kebahagiaan atau kesuksesan yang pasti akan kita sambut dengan
baik, kita doakan dan harapkan terjadi senantiasa dalam kehidupan kita serta dapat menjadi
sesuatu yang kita banggakan dalam kehidupan ini.
Namun dalam ayat bacaan kita diatas, rasul Paulus kepada jemaat di Roma
memberikan sebuah paradigma yang baru terkait dengan kesengsaraan! Sesuatu yang ‘out of
the box', dimana Paulus menyatakan bahwa kita harus bermegah juga dalam kesengsaraan
kita. Ya, kesengsaraan kita! Mengapa demikian? Ternyata ada hal baik yang ditimbulkan
sebagai dari kesengsaraan yang kita alami, jika kita meresponinya secara benar, yakni:
1. Ketekunan
Di tengah kesengsaraan yang dihadapi, kasih karunia Allah membuat kita mencari Wajah
Tuhan dengan lebih sungguh-sungguh serta menghasilkan semangat dan sifat tabah
dalam menghadapi pencobaan hidup ini. Tentunya jika kita meresponi dengan benar
kesengsaraan yang kita hadapi. Jika kita meresponi dengan salah, bukannya ketekunan
justru malah keputusasaan, sungut-sungut dan keluh kesah yang muncul, ujung-ujungnya
mereka menjadi kecewa kepada Tuhan dan tidak sedikit yang meninggalkan Tuhan.
Perhatikanlah mereka yang hidupnya cinta dan takut akan Tuhan, di kala mengalami
kesengsaraan, mereka semakin tekun mencari Tuhan, makin melekat dengan Tuhan.
Bagaimana dengan Anda?

2. Tahan Uji
Kesengsaraan ibarat dapur api yang menyucikan emas dari logam-logam lainnya yang
melekat pada dirinya. Ia memurnikan kita. Bukan hanya memurnikan, kesengsaraan juga
membuat kita menjadi pribadi yang tahan uji, jika kita meresponinya dengan benar dan
dengan ketekunan. Seperti halnya quality control terhadap sebuah produk sebelum

dilepas ke pasaran untuk dapat dipakai oleh konsumen, demikian juga kesengsaraan yang
kita alami. Hanya produk-produk yang lolos uji ketahanan/uji mutu yang dapat dipakai
dan dinikmati manfaatnya oleh masyarakat banyak, demikian juga hanya mereka yang
tahan uji, yang tekun dalam menghadapi kesengsaraan yang dapat dipakai menjadi berkat
bagi masyarakat secara umum melalui kehadiranya sebagai terang dan garam dunia.
Jangan melarikan diri dari proses! Hadapi dengan ketekunan dan tentunya minta
kekuatan serta penghiburan dari Roh Kudus. Kita tidak akan mampu dengan kekuatan
sendiri, tapi bersama Roh Kudus kita diberikan kesanggupan untuk melewati semuanya.

3. Pengharapan
Kesengsaraan membawa kepada ketekunan dan bukan keputusasaan, ketekunan
menghasilkan sifat tahan uji dan tahan uji menghasilkan pengharapan matang yang tidak
akan mengecewakan. Saat kita menghadapi kesengsaraan, kasih karunia Allah membuat
kita memandang jauh melampaui kesengsaraan yang kita hadapi, yakni pengharapan
yang sungguh kepada Allah serta pengharapan akan kedatangan-Nya kembali ke dunia
untuk menegakkan kebenaran dan kekudusan di langit dan bumi yang baru. Pengharapan
kita tidak mengecewakan karena dimeteraikan oleh Roh Kudus sebagai Roh kasih. Ini
adalah karya Roh Kudus yang melimpahkan/mencurahkan kasih Allah ke dalam hati
semua orang kudus-Nya.

Jangan takut dalam menghadapi kesengsaraan! Jangan lari dari proses! Minta kekuatan dan
penghiburan Roh Kudus yang akan memampukan kita merespon dengan benar,
menghadapinya dengan ketekunan, sampai kita menjadi orang-orang percaya yang tahan uji
dan berpengharapan mulia. Amin. (DL)

 

GBI Jalan Jend Gatot Subroto