AKU MENYANGKA

16 Nov, 2020

Mazmur 31:22  Aku menyangka dalam kebingunganku: “Aku telah terbuang dari hadapan mata-Mu.”

Dalam keseharian kita, seringkali kita punya dugaan dari pikiran kita sendiri yang ternyata bukan yang Tuhan pikir. Tuhan punya maksud dan rencana yang baik, eh … yang kita pikir  malah yang “ku sangka….” 

Pikiran yang diisi dengan dugaan sendiri membuat kita terperangkap dalam jerat prasangka. Dikira keburukan dan kejahatan yang mendatangi, padahal sesungguhnya  yang datang itu adalah kebaikan dari Tuhan.  Itu lah yang membuat kita tidak menikmati damai sejahtera  dan kebaikan-kebaikan Tuhan yang Dia berikan untuk kita alami dalam keseharian hidup kita. Terutama di masa pandemic yang membuat banyak orang takut, kehilangan damai sejahtera, justru kita harus merdeka dari pikiran yang terbentuk dari “Aku sangka…”

Kisah Yusuf dalam Kitab Kejadian adalah contoh orang yang terjerat dalam pikiran “aku sangka.” Ketika di hadapan kakaknya yang mencari gandum di tengah bencana kelaparan, -yang “tertangkap mencuri” - Yusuf membukakan identitas diri dan keberadaannya di Mesir,  ternyata dia adalah penguasa yang mengendalikan Mesir di hadapan kakaknya. Kesepuluh orang kakak Yusuf berprasangka, bahwa Yusuf akan membalas dendam kepada mereka karena sekarang Yusuf sebagai penguasa di Mesir. Sekarang sebagai kakak yang pernah menjebloskan Yusuf jadi  terbayang, bahwa karma itu sedang berbalik menimpa mereka. Apa yang mereka tabur dulu, sekarang menuainya.  Mereka teringat kembali kejahatan mereka kepada Yusuf, membuatnya dalam penderitaan. Mereka membuang Yusuf ke dalam sumur, lalu menjualnya kepada orang Ismael.  Mereka telah merenggut kebahagiaan Yusuf dan masa mudanya, membuat berpisah dari papa Yakub yang begitu disayangi.  Mereka  membanting Yusuf jadi budak di negeri asing, dan dianggap sudah mati. Sekarang kesepuluh orang kakak Yusuf datang sebagai orang yang ditimpa   bencana kelaparan, akibat kekeringan tujuh tahun, dan ternyata  Yusuflah yang memegang lumbung gandum.

Alkitab dalam Kejadian 42: 19-24 dan Kejadian 45: 1-10  menggambarkan keadaan ini, menyingkapkan pikiran yang salah, gara-gara punya prasangkanya sendiri, akibat kelakuan buruk yang ditabur di masa lalu.

Sang kakak tertekan rasa takut, karena Yusuf pasti balas dendam, Yusuf sedang merancang yang jahat atas mereka, sementara itu, sesungguhnya Yusuf begitu mengasihi dan merindukan saudara-saudaranya. Yusuf sedang merancangkan yang baik buat mereka, namun mereka punya pikiran dan dugaan mereka sendiri. Prasangka buruk yang menghantui dan menyiksa diri sendiri. Walau ujungnya mereka tersadar, mereka terjebak dengan dugaan “Aku sangka….., ternyata sebaliknya”  Dua kenyataan yang bertolak belakang, “aku sangka” versus “padahal nyatanya.”

Kejadian 45:3, 8-10 Dan Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya: "Akulah Yusuf! Masih hidupkah bapa?" Tetapi saudara-saudaranya tidak dapat menjawabnya, sebab mereka takut dan gemetar menghadapi dia.

Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.

Segeralah kamu kembali kepada bapa dan katakanlah kepadanya: Beginilah kata Yusuf, anakmu: Allah telah menempatkan aku sebagai tuan atas seluruh Mesir; datanglah mendapatkan aku, janganlah tunggu-tunggu. 

Engkau akan tinggal di tanah Gosyen dan akan dekat kepadaku, engkau serta anak dan cucumu, kambing domba dan lembu sapimu dan segala milikmu

Daud juga terjebak dalam praduga buruk buatan imajinasinya sendiri.

Mazmur 31:22  Aku menyangka dalam kebingunganku: “Aku telah terbuang dari hadapan mata-Mu.” Tetapi sesungguhnya Engkau mendengarkan suara   permohonanku, ketika aku berteriak kepada-Mu minta tolong.

Daud menyangka dirinya telah dibuang Tuhan. Nah itulah model  pikiran dari orang-orang yang dihajar masalah dan musibah, dan matanya focus kepada masalah. Pikirannya dibanjiri dan penuh dengan sampah yang dari dunia. Sehingga apa yang dikatakan Alkitab tidak bisa dicerna lagi. Mereka tidak melihat Tuhan. Mirip dengan Petrus melihat Tuhan Yesus berjalan di atas air. Semua murid di dalam perahu berteriak “Itu hantu….” Tuhan yang datang, lalu diteriaki hantu. kebaikan yang datang, namun disangka  keburukan .

Hari-hari ini, di masa pandemic, dimasa pembatasan social (lock down), banyak orang ditimpa takut, khawatir, pesimis, depresi, patah semangat. Dan tipuan iblis “aku sangka” membuat kerusakan mental dan  emosi jadi tambah parah.

Karena itu berdamailah dengan Allah, tanggalkan pikiran yang bukan dari pikiran Kristus. Roma 5:1-2 (TB)  Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.

Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.

Kolose 3:15 (TB)  Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

Pikirkanlah kebenaran firman, daan posisikan dalam iman, diri Anda  seperti yang firman katakan, dan perkatakanlah sebagai pengakuan iman, apa yang firman tulis, ucapkan sebagai kebenaranNya bagi Anda. Deklarasikan, sebagaimana yang firman katakan, itulah diriku di dalam kristus.

Di dalam Yesus aku adalah anak BAPA surgawi, anak yang disayang BAPA, di dalam kebaikanNya senantiasa.  RancanganNya adalah baik dan damai sejahteran senantiasa, walau ditengah badai dan persoalan, aku tinggaldi dalam kebenaranNya, di dalam damai sejahteraNya.


GBI Jalan Jend Gatot Subroto